Kamis, 08 Oktober 2020

Saatnya Bangun dari Tidur Panjang

 


foto : https://miadanielle.com/energize-your-home-office-space/

 Alhamdulillah setelah bertahun-tahun dalam tidur panjang, akhirnya bisa bangun juga๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Gegara iseng-iseng buka Rapalkata.blogspot.com, eh muncul iklannya di smartphone. Gak tahu nih, Iklan dari provider atau bagemane. Aku cek via smartphone dengan provider sama, muncul tu iklan. Terus, nyoba cek pakai smartphone lain yang provider lainnya kagak muncul iklannya๐Ÿ˜„

Gak apa-apalah, mungkin itu juga yang bikin semangat nulis. Tar, coba lagi belajar AdSense, yang jelas mulai hari ini pengin ngidupin dulu nih Rapalkata.blogspot.com yang telah mati suri. 

Anw, syukur Alhamdulillah juga, Cerpen Senyum Saino dimuat di Harian Solopos, edisi Minggu. 27 September 2020 lalu. Itu, tuh harian lokal orang Soloraya. Semoga dengan karya ini, akan tumbuh karya-karya lain. Sambil ngelemisin jari yang kaku banget ngetik keyboard. 

Biar semangat pulak, ni netbook udah aq ganti harddisknya. Aku sematin SSD. Dan betul saja, jadi wuss uwuss... lebih cepat n nggak bikin oleng saat ide sudah ngumpul. 

SENYUM SAINO

 



Karya Ara Sasmitha K*

 

Semburat senja sore ini sungguh indah. Warna oranye tampak menyapu langit sore. Tapi tentunya tak seindah hidupku. Waktu sore dan pagi adalah yang paling tepat untuk berjalan-jalan. Bukan untuk mencari angin. Bukan itu!

Kedua waktu itu aku gunakan untuk bekerja. Kalau orang lain bekerja pagi sampai sore atau sore sampai malam, lain lagi dengan aku.

Aku bekerja sesuka hatiku. karena memang aku tak digaji oleh bos. Aku dan keluargaku akan makan kalau aku giat bekerja. Aku menggenjot sebuah becak berwarna merah yang sudah mulai pudar warnanya menyusuri kompleks-kompleks perumahan. Tapi, kau salah besar jika mengira aku adalah tukang becak.

Namaku Saino. Aku terkenal di daerah pinggiran Kota Solo. Memang, tak semua tahu namaku. Tapi mereka sudah hapal denganku.

Beberapa dari mereka kerap menyapa. Namun selebihnya, mereka acuh akan kehadiranku. Cuih! Aku juga tidak peduli. Semakin mereka acuh, aku leluasa mengobrak-abrik tong-tong sampah mereka.

Aku mencari apa saja yang bisa dijual ke pengepul rosok. Ada botol minuman plastik, kardus bekas makanan atau kardus bekas alat elektronik dan lainnya.

Anakku akan senang sekali kalau mendapat kardus bekas makanan. Ia biasanya menyimpan potongan gambar kardus tersebut di dinding kamarnya. Seperti bisa kau tebak, aku tak mampu membeli makanan yang aneka macam. Bahkan rumit, kalau aku dengar dari orang-orang kadang harganya tidak wajar. Ah, tentu buatku.

Kalau buatku sih sama saja. Toh, tetap saja makanan dan minuman yang harganya selangit itu akan bermuara di tempat pembuangan. Lebih baik aku makan masakan bikinan istriku di rumah. Aku tak perlu bayar mahal.

Arrgh... Rumah. Rumah yang berdiri di sepetak lahan warisan keluargaku. Mungkin, sudah nasib dari leluhur, kami adalah keluarga miskin.

Tanah yang kami tempati adalah pemberian dari juragan sapi tempat bapakku dulu bekerja. Juragan Jarno itu orangnya cukup baik, karena bapak sudah ikut dengannya sejak kecil.

Karena kebaikan hati beliau pula, kami punya tanah. Nah, bapak membangun sebuah rumah sederhana dari kayu. Setelah bapak dan ibu meninggal, akulah yang mewarisinya. Sampai sekarang, aku belum mampu merenovasi. Hanya, kalau ada yang rusak parah akan aku tambal dengan kayu atau bambu.

Ah sudahlah, tak perlu panjang lebar aku menjelaskan tentang diriku. Kalian akan tahu kisahku.

***

"Pak, aku kok pengin jalan-jalan yo. Mbok, sekali-kali  macak sek bagus ayo mlaku-mlaku. Rasah adoh-adoh, jare cedak kene ana Toserba sek nembe buka," rayu istriku suatu pagi.

Aku terdiam. Ada apa dengan wanita yang sudah menemaniku selama berpuluh-puluh tahun, tiba-tiba pengin jalan-jalan. "Walah mbok, isin aku. Wes tuwek, awak ireng koyo ngene kok arep mlaku-mlaku. Engko awake dewe malah diusir karo satpam. Dikiro rep ngemis!" ujarku.

Lha ya to, sapa yang mau percaya dengan sepasang suami istri yang tak punya duit ini. Dari kejauhan saja udah kelihatan lethek.

"Lha mbok kono kae botol plastike dipilihi. Sek apik disisihne, regane wes lumayan saiki. Rasah mlaku-mlaku adoh, kene wae nek omah!" tegasku.

Istri Saino tampak cemberut. Sudah lama dia sebenarnya menahan rasa ingin jalan-jalan seperti yang pernah dia dengar dari tetangganya ketika rewangan yang masih lekat di kampungnya. Walau miskin, namun bila ada tetangganya yang punya gawe seperti mantu, tak segan dia membantu. Dia biasa kebagian mencuci piring dan gelas. 

Padahal, dia sudah menyisihkan uang tiap hari di sebuah kaleng roti bekas. Tiap hari dia memasukkan dua ribu dari uang yang diberi suaminya. Kaleng kesepuluh itu tampak sudah susah ditutup karena terlalu banyak penghuninya.

Rahmi  memang menyimpan untuk jaga-jaga. Kalau ada yang sakit. Dia bersyukur keluarganya tak pernah ada yang sakit parah. Mungkin virus dan bakteri cukup tahu diri, kalau keluarganya sakit tak akan mampu membawa ke rumah sakit. Jadi, uang berkaleng-kaleng itu pun masih utuh belum tersentuh. Marni melongok sebentar ke bawah ranjang kayu di kamar tempat menyimpan kaleng-kaleng itu. Suami dan anaknya tak ada yang tahu kalau isinya uang.

Kemudian, dia melangkah gontai menuju gunungan botol plastik di depan rumah. Dia sebenarnya sudah tidak tahan lagi, ingin pergi. Tapi pergi kemana? Takdir seolah sudah memaku kakinya untuk setia kepada lelaki yang dia sendiri tidak tahu. Ia cintai atau terpaksa hidup bersama karena tak ada pilihan lain.

Ia mengambil dingklik kayu yang sudah menghitam. Duduk sembari pelan-pelan mendendangkan lagu dangdut milik Hamdan ATT, Termiskin di Dunia. Lagu yang pernah booming di era 1980-an ini seolah mewakili hatinya.

Setiap hari, dia memakai pakaian dinas. Berupa daster. Baju favorit para ibu. Sama-sama favorit, tapi milik Rahmi, istri Saino pasti paling beda. Warnanya sudah mulai menghilang dan banyak tambalan jahitan. Ada beberapa memang yang bagus, tapi Rahmi memilih menyimpan di lemari. Dia akan mengenakan kalau ada rewangan.

Rahmi sudah biasa memilih botol-botol plastik. Tangannya dengan cekatan memilah botol mana yang masih bisa dijual lagi dan yang rusak. Tangannya harus cepat bekerja mengimbangi kecepatan suaminya dalam mengambil rosok. Kalau tidak gunungan botol plastik akan memenuhi rumahnya.

***



Bune, kemarin Pak RT sama orang dari kelurahan ke sini,” tutur Saino saat membantu istrinya memilah botol plastik.

“Ada apa, Pak? Dengaren, biasanya dia tidak peduli dengan kita. Lihat saja, kita yang memang dari dulu miskin ngggak pernah terima bantuan dari pemerintah. Malah saudara-saudaranya yang lebih kaya dari kita dapat semua,” Rahmi menjawab ketus.

Wes Bune, nggak usah dipikirke masalah itu. Walau nggak dapat bantuan, toh kita masih bisa makan. Kita masih kuat bekerja. Gini lho, orang dari kelurahan itu minta anak kita didaftarkan sekolah, itu lho sekolah yang khusus untuk anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental seperti Arif, anak kita.”

Rahmi masih belum percaya dengan kata gratis. Tapi, ia berharap banyak jika anaknya disekolahkan, Arif akan lebih mudah diarahkan. Tidak hanya ngamuk di rumah. Rahmi memang lebih banyak membiarkan anaknya bermain di rumah. Karena, kalau bermain dengan anak-anak kampung Arif hanya menjadi bahan olok-olokan anak-anak sebayanya.

Kalau terpaksa harus pergi, Rahmi akan mengunci Arif di rumah. Asal ada makanan dan televisi, Arif akan diam. Dia biasanya lebih terkendali jika menonton televisi. Atau jika ikut suaminya bekerja cari rosok. Ah, entah ini karma atau ujian berat bagi keluarganya. Sudah miskin, masih ada ujian juga memiliki anak yang lambat.

“Apa kalau anak kita disekolahkan, ada jaminan anak kita akan seperti anak-anak yang lain, Pakne? Bisa pinter, terus kelakuannya sama kayak anak-anak yang lain? Aku kok kadang mikir, salah apa keluarga kita di masa lalu. Sampai bisa kayak gini. Sudah miskin dari nenek moyang, anak kita juga idiot,” Rahmi menutup muka dengan kedua tangan, tak kuasa melanjutkan kata-katanya.

Hush, mbok sudah to Bune. Terima dengan ikhlas yang sudah digariskan Allah pada kita. Seharusnya Bune bersyukur, kita sudah punya rumah walau jelek, tidak numpang di mana-mana. Tidak keleleran di jalan. Mungkin, kita adalah orang-orang pilihan Allah,” ujar Saino.

“Pilihan kok yang pahit gini, ujian tiap hari tapi ndak pernah naik kelas. Lha nggak sabar gimana, kalau nggak sabar aku sudah pergi dari dulu, Pak!”

“Sudah, sudah, Bune. Wes, piye keputusane, anak kita mau disekolahkan atau biar tetap di rumah saja?”

“Ndak tahu, Pakne. Aku mumet. Apa ya kalau gratis semuanya itu gratis? Seragam, sama yang lain-lain. Terus nanti siapa yang antarjemput. Njenengan kan tahu, jarak rumah kita sama sekolah yang ada di kabupaten itu kan jauh. Kalau antarjemput, terus kapan kerjane?”

“Tapi…” Belum sempat Saino menjelaskan, Rahmi sudah memilih pergi dari hadapan suaminya. Rahmi masuk ke rumah.

***

Rahmi masuk kamar. Dia masih bimbang dengan apa yang disampaikan oleh suaminya. Daripada pusing, Rahmi memilih berbaring di atas dipan.

Tiba-tiba dia mendengar suara piring dan gelas dilempar. “Glompraang…Glompraang…”Tak hanya sekali, gelas dan piring itu dibanting berkali-kali.

Rahmi memejamkan mata dan menutup telinganya. Rahmi sudah biasa mendengar suara gelas dan piring itu dibanting berkali-kali. Kalau lauk makan bukan ayam goreng, Arif akan membanting semua yang ada di hadapannya.

Begitulah dia! Tak tahu kondisi orangtuanya. Sudah beberapa hari ini rosok botol dan kardus belum dibayar pengepul. Rongsokan itu katanya harganya lagi anjlok. Jadi, pengepul memilih menahan barang-barangnya di gudang. Alhasil, orang-orang seperti kami harus puasa dulu. Keluarga ini jika mau selamat harus berhemat.

“Sudah dibilangin, bune sama pakne lagi nggak punya uang! Makan seadanya dulu, Le…” Bukannya diam, Arif malah melemparkan piring itu ke layar televisi. Untung rongsokan tivi itu bakoh. Cuma gambarnya jadi blur. Itu pun karena antenanya ikut goyang.

***

Matahari belum lah sampai di atas kepala. Tapi, panas sudah menyengat menusuk pori-pori kulit saat musim pancaroba seperti ini. Hari ini, Arif ikut bapaknya mencari rosok.

Di rumah, kepala Rahmi masih pening, dia membuka tiga kaleng bekas roti. Dia mulai menumpuk setiap lima lembar uang berwarna hijau tersebut. Sudah ada bertumpuk-tumpuk. Seperti ada memburu, Rahmi segera ke toko kelontong.

Tumpukan uang dua ribu sudah berganti menjadi sepuluh lembar uang ratusan ribu. Rahmi lalu mencegat sebuah angkutan. Jantungnya berdetak cepat tak sabar rasanya untuk berjalan-jalan ke Toserba yang baru buka itu.

Angkutan menurunkan Rahmi tepat di depan Toserba yang sudah lama ia inginkan. Kalau saja tak banyak orang, rasanya Rahmi ingin menari dan menyanyi dengan kencang. Meluapkan kegembiraan. Mimpinya sebentar lagi jadi kenyataan. Yang ada, Rahmi justru mematung.

Entah mengapa, kakinya tidak bergerak ke pintu masuk Toserba. Kaki-kaki bersandal jepit itu justru membawanya ke sebuah warung hik di samping Toserba. Rahmi masuk memesan segelas es teh.

***

Selepas sore, Saino dan anaknya baru pulang. Dia menemukan segelas es teh lengkap dengan aneka gorengan kesukaannya. ‘Wah, segar sekali es tehnya, Bune,” kata Saino.

“Aku tadi ke Toserba yang baru buka, Pak! Aku buka uang simpanan kita,”

Cabe hijau di tangan Saino terjatuh. Seleranya untuk makan mendoan tiba-tiba hilang. Dia meletakkan tempe mendoan itu kembali ke piring. Lalu, berdiri.

“Aku tadi berniat belanja ke Toserba. Tapi, betul kata bapak. Aku tidak pantas! Kaki ini tak mau kuajak masuk. Ini, uang simpanan kita. Gunakan untuk keperluan sekolah Arif.”

Saino masih terdiam. Tapi mulutnya kini menyunggingkan sebuah senyum.#

 

 

*Ara Sasmitha K, ibu rumah tangga dua putra tinggal di Sukoharjo.

*CERPEN INI SUDAH TERBIT DI HARIAN SOLOPOS, MINGGU (27 SEPTEMBER 2020)