Karya Ara Sasmitha K*
Semburat senja sore ini sungguh indah. Warna oranye tampak
menyapu langit sore. Tapi tentunya tak seindah hidupku. Waktu sore dan pagi adalah
yang paling tepat untuk berjalan-jalan. Bukan untuk mencari angin. Bukan itu!
Kedua waktu itu aku gunakan untuk bekerja. Kalau orang lain
bekerja pagi sampai sore atau sore sampai malam, lain lagi dengan aku.
Aku bekerja sesuka hatiku. karena memang aku tak digaji oleh
bos. Aku dan keluargaku akan makan kalau aku giat bekerja. Aku menggenjot
sebuah becak berwarna merah yang sudah mulai pudar warnanya menyusuri
kompleks-kompleks perumahan. Tapi, kau salah besar jika mengira aku adalah
tukang becak.
Namaku Saino. Aku terkenal di daerah pinggiran Kota Solo.
Memang, tak semua tahu namaku. Tapi mereka sudah hapal denganku.
Beberapa dari mereka kerap menyapa. Namun selebihnya, mereka
acuh akan kehadiranku. Cuih! Aku juga tidak peduli. Semakin mereka acuh,
aku leluasa mengobrak-abrik tong-tong sampah mereka.
Aku mencari apa saja yang bisa dijual ke pengepul rosok. Ada
botol minuman plastik, kardus bekas makanan atau kardus bekas alat elektronik
dan lainnya.
Anakku akan senang sekali kalau mendapat kardus bekas
makanan. Ia biasanya menyimpan potongan gambar kardus tersebut di dinding
kamarnya. Seperti bisa kau tebak, aku tak mampu membeli makanan yang aneka
macam. Bahkan rumit, kalau aku dengar dari orang-orang kadang harganya tidak
wajar. Ah, tentu buatku.
Kalau buatku sih sama saja. Toh, tetap saja makanan dan
minuman yang harganya selangit itu akan bermuara di tempat pembuangan. Lebih
baik aku makan masakan bikinan istriku di rumah. Aku tak perlu bayar mahal.
Arrgh... Rumah. Rumah yang berdiri di sepetak lahan
warisan keluargaku. Mungkin, sudah nasib dari leluhur, kami adalah keluarga
miskin.
Tanah yang kami tempati adalah pemberian dari juragan sapi
tempat bapakku dulu bekerja. Juragan Jarno itu orangnya cukup baik, karena
bapak sudah ikut dengannya sejak kecil.
Karena kebaikan hati beliau pula, kami punya tanah. Nah,
bapak membangun sebuah rumah sederhana dari kayu. Setelah bapak dan ibu
meninggal, akulah yang mewarisinya. Sampai sekarang, aku belum mampu
merenovasi. Hanya, kalau ada yang rusak parah akan aku tambal dengan kayu atau
bambu.
Ah sudahlah, tak perlu panjang lebar aku menjelaskan tentang
diriku. Kalian akan tahu kisahku.
***
"Pak, aku kok pengin jalan-jalan yo. Mbok,
sekali-kali macak sek bagus ayo mlaku-mlaku.
Rasah adoh-adoh, jare cedak kene ana Toserba sek nembe buka,"
rayu istriku suatu pagi.
Aku terdiam. Ada apa dengan wanita yang sudah menemaniku
selama berpuluh-puluh tahun, tiba-tiba pengin jalan-jalan. "Walah mbok, isin
aku. Wes tuwek, awak ireng koyo ngene kok arep mlaku-mlaku. Engko
awake dewe malah diusir karo satpam. Dikiro rep ngemis!"
ujarku.
Lha ya to, sapa yang mau percaya dengan sepasang suami istri
yang tak punya duit ini. Dari kejauhan saja udah kelihatan lethek.
"Lha mbok kono kae botol plastike dipilihi. Sek
apik disisihne, regane wes lumayan saiki. Rasah mlaku-mlaku adoh, kene wae nek
omah!" tegasku.
Istri Saino tampak cemberut. Sudah lama dia sebenarnya
menahan rasa ingin jalan-jalan seperti yang pernah dia dengar dari tetangganya
ketika rewangan yang masih lekat di kampungnya. Walau miskin, namun bila
ada tetangganya yang punya gawe seperti mantu, tak segan dia membantu. Dia
biasa kebagian mencuci piring dan gelas.
Padahal, dia sudah menyisihkan uang tiap hari di sebuah
kaleng roti bekas. Tiap hari dia memasukkan dua ribu dari uang yang diberi
suaminya. Kaleng kesepuluh itu tampak sudah susah ditutup karena terlalu banyak
penghuninya.
Rahmi memang
menyimpan untuk jaga-jaga. Kalau ada yang sakit. Dia bersyukur keluarganya tak
pernah ada yang sakit parah. Mungkin virus dan bakteri cukup tahu diri, kalau
keluarganya sakit tak akan mampu membawa ke rumah sakit. Jadi, uang
berkaleng-kaleng itu pun masih utuh belum tersentuh. Marni melongok sebentar ke
bawah ranjang kayu di kamar tempat menyimpan kaleng-kaleng itu. Suami dan
anaknya tak ada yang tahu kalau isinya uang.
Kemudian, dia melangkah gontai menuju gunungan botol plastik
di depan rumah. Dia sebenarnya sudah tidak tahan lagi, ingin pergi. Tapi pergi
kemana? Takdir seolah sudah memaku kakinya untuk setia kepada lelaki yang dia
sendiri tidak tahu. Ia cintai atau terpaksa hidup bersama karena tak ada
pilihan lain.
Ia mengambil dingklik kayu yang sudah menghitam. Duduk
sembari pelan-pelan mendendangkan lagu dangdut milik Hamdan ATT, Termiskin
di Dunia. Lagu yang pernah booming di era 1980-an ini seolah
mewakili hatinya.
Setiap hari, dia memakai pakaian dinas. Berupa daster. Baju
favorit para ibu. Sama-sama favorit, tapi milik Rahmi, istri Saino pasti paling
beda. Warnanya sudah mulai menghilang dan banyak tambalan jahitan. Ada beberapa
memang yang bagus, tapi Rahmi memilih menyimpan di lemari. Dia akan mengenakan
kalau ada rewangan.
Rahmi sudah biasa memilih botol-botol plastik. Tangannya
dengan cekatan memilah botol mana yang masih bisa dijual lagi dan yang rusak.
Tangannya harus cepat bekerja mengimbangi kecepatan suaminya dalam mengambil
rosok. Kalau tidak gunungan botol plastik akan memenuhi rumahnya.
***
“Bune, kemarin Pak RT sama orang dari kelurahan ke
sini,” tutur Saino saat membantu istrinya memilah botol plastik.
“Ada apa, Pak? Dengaren, biasanya dia tidak peduli
dengan kita. Lihat saja, kita yang memang dari dulu miskin ngggak pernah terima
bantuan dari pemerintah. Malah saudara-saudaranya yang lebih kaya dari kita
dapat semua,” Rahmi menjawab ketus.
“Wes Bune, nggak usah dipikirke masalah itu. Walau
nggak dapat bantuan, toh kita masih bisa makan. Kita masih kuat bekerja. Gini
lho, orang dari kelurahan itu minta anak kita didaftarkan sekolah, itu lho
sekolah yang khusus untuk anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental
seperti Arif, anak kita.”
Rahmi masih belum percaya dengan kata gratis. Tapi, ia
berharap banyak jika anaknya disekolahkan, Arif akan lebih mudah diarahkan.
Tidak hanya ngamuk di rumah. Rahmi memang lebih banyak membiarkan
anaknya bermain di rumah. Karena, kalau bermain dengan anak-anak kampung Arif
hanya menjadi bahan olok-olokan anak-anak sebayanya.
Kalau terpaksa harus pergi, Rahmi akan mengunci Arif di
rumah. Asal ada makanan dan televisi, Arif akan diam. Dia biasanya lebih
terkendali jika menonton televisi. Atau jika ikut suaminya bekerja cari rosok.
Ah, entah ini karma atau ujian berat bagi keluarganya. Sudah miskin, masih ada
ujian juga memiliki anak yang lambat.
“Apa kalau anak kita disekolahkan, ada jaminan anak kita
akan seperti anak-anak yang lain, Pakne? Bisa pinter, terus kelakuannya sama
kayak anak-anak yang lain? Aku kok kadang mikir, salah apa keluarga kita di
masa lalu. Sampai bisa kayak gini. Sudah miskin dari nenek moyang, anak kita
juga idiot,” Rahmi menutup muka dengan kedua tangan, tak kuasa melanjutkan
kata-katanya.
“Hush, mbok sudah to Bune. Terima
dengan ikhlas yang sudah digariskan Allah pada kita. Seharusnya Bune bersyukur,
kita sudah punya rumah walau jelek, tidak numpang di mana-mana. Tidak keleleran
di jalan. Mungkin, kita adalah orang-orang pilihan Allah,” ujar Saino.
“Pilihan kok yang pahit gini, ujian tiap hari tapi ndak
pernah naik kelas. Lha nggak sabar gimana, kalau nggak sabar aku sudah pergi
dari dulu, Pak!”
“Sudah, sudah, Bune. Wes, piye keputusane, anak kita
mau disekolahkan atau biar tetap di rumah saja?”
“Ndak tahu, Pakne. Aku mumet. Apa ya kalau gratis
semuanya itu gratis? Seragam, sama yang lain-lain. Terus nanti siapa yang
antarjemput. Njenengan kan tahu, jarak rumah kita sama sekolah yang ada
di kabupaten itu kan jauh. Kalau antarjemput, terus kapan kerjane?”
“Tapi…” Belum sempat Saino menjelaskan, Rahmi sudah memilih
pergi dari hadapan suaminya. Rahmi masuk ke rumah.
***
Rahmi masuk kamar. Dia masih bimbang dengan apa yang
disampaikan oleh suaminya. Daripada pusing, Rahmi memilih berbaring di atas dipan.
Tiba-tiba dia mendengar suara piring dan gelas dilempar. “Glompraang…Glompraang…”Tak
hanya sekali, gelas dan piring itu dibanting berkali-kali.
Rahmi memejamkan mata dan menutup telinganya. Rahmi sudah
biasa mendengar suara gelas dan piring itu dibanting berkali-kali. Kalau lauk
makan bukan ayam goreng, Arif akan membanting semua yang ada di hadapannya.
Begitulah dia! Tak tahu kondisi orangtuanya. Sudah beberapa
hari ini rosok botol dan kardus belum dibayar pengepul. Rongsokan itu katanya
harganya lagi anjlok. Jadi, pengepul memilih menahan barang-barangnya di
gudang. Alhasil, orang-orang seperti kami harus puasa dulu. Keluarga ini jika
mau selamat harus berhemat.
“Sudah dibilangin, bune sama pakne lagi nggak punya
uang! Makan seadanya dulu, Le…” Bukannya diam, Arif malah melemparkan piring
itu ke layar televisi. Untung rongsokan tivi itu bakoh. Cuma gambarnya
jadi blur. Itu pun karena antenanya ikut goyang.
***
Matahari belum lah sampai di atas kepala. Tapi, panas sudah
menyengat menusuk pori-pori kulit saat musim pancaroba seperti ini. Hari ini,
Arif ikut bapaknya mencari rosok.
Di rumah, kepala Rahmi masih pening, dia membuka tiga kaleng
bekas roti. Dia mulai menumpuk setiap lima lembar uang berwarna hijau tersebut.
Sudah ada bertumpuk-tumpuk. Seperti ada memburu, Rahmi segera ke toko
kelontong.
Tumpukan uang dua ribu sudah berganti menjadi sepuluh lembar
uang ratusan ribu. Rahmi lalu mencegat sebuah angkutan. Jantungnya berdetak
cepat tak sabar rasanya untuk berjalan-jalan ke Toserba yang baru buka itu.
Angkutan menurunkan Rahmi tepat di depan Toserba yang sudah
lama ia inginkan. Kalau saja tak banyak orang, rasanya Rahmi ingin menari dan
menyanyi dengan kencang. Meluapkan kegembiraan. Mimpinya sebentar lagi jadi
kenyataan. Yang ada, Rahmi justru mematung.
Entah mengapa, kakinya tidak bergerak ke pintu masuk
Toserba. Kaki-kaki bersandal jepit itu justru membawanya ke sebuah warung hik
di samping Toserba. Rahmi masuk memesan segelas es teh.
***
Selepas sore, Saino dan anaknya baru pulang. Dia menemukan
segelas es teh lengkap dengan aneka gorengan kesukaannya. ‘Wah, segar sekali es
tehnya, Bune,” kata Saino.
“Aku tadi ke Toserba yang baru buka, Pak! Aku buka uang
simpanan kita,”
Cabe hijau di tangan Saino terjatuh. Seleranya untuk makan
mendoan tiba-tiba hilang. Dia meletakkan tempe mendoan itu kembali ke piring.
Lalu, berdiri.
“Aku tadi berniat belanja ke Toserba. Tapi, betul kata
bapak. Aku tidak pantas! Kaki ini tak mau kuajak masuk. Ini, uang simpanan
kita. Gunakan untuk keperluan sekolah Arif.”
Saino masih terdiam. Tapi mulutnya kini menyunggingkan
sebuah senyum.#
*Ara Sasmitha K, ibu rumah tangga dua putra tinggal di
Sukoharjo.
*CERPEN INI SUDAH TERBIT DI HARIAN SOLOPOS, MINGGU (27 SEPTEMBER 2020)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar