Kamis, 03 Januari 2013

Revitalisasi Kepercayaan Diri Petani



Tani Muda Indonesia

Revitalisasi Kepercayaan Diri Petani


Kondisi pertanian di Indonesia saat ini pada tahap tidak kondusif. Lahan pertanian yang semakin sempit karena tergusur oleh sektor perumahan dan industri, seolah terabaikan. Padahal, sektor pertanian pernah menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia pada tahun 1984 sampai 1993 dengan tercapainya swasembada beras. Belum lagi dengan kondisi Sumber Daya Manusia  (SDM) yang kian sedikit.

Generasi muda lebih memilih untuk terjun di bidang lain, seperti industri, ekonomi kreatif, profesional, dan sebagainya. Petani bukan lagi profesi yang membanggakan, karena petani sekarang dihantui oleh gagal panen dan kemiskinan.

Adalah Dinar Peduli, sebuah yayasan nonprofit di Solo, Jawa Tengah, yang memiliki perhatian cukup besar untuk mengembalikan kejayaan petani di negeri ini. Mereka mengusung Program <I>Tani Muda Indonesia<I>. “Negeri kita dikaruniai Allah menjadi negara agraris, mempunyai potensi yang luar biasa untuk kemakmuran. Namun, pemerintah lebih berorientasi pada luar bukan lokal, melalui semangat industrialisasi. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia adalah petani,” ujar Jularso, Pembina Dinar Peduli.

Program ini memberdayakan petani secara keseluruhan, mulai bantuan permodalan, Sarana Produksi Tanaman (Saprotan), pendampingan secara teknis hingga pemasaran. Dia mengatakan, penggunaan nama “Tani Muda” karena  ingin merevitalisasi semangat petani mengingat dominasi petani adalah mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Kalau belum bisa merangkul yang muda, semangat inilah yang coba diusung Dinar Peduli. Semangat Muda!

Pendamping Program Tani Muda Dinar Peduli, Istas Buntolo,  mengungkapkan program awal ini dikembangkan di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Luwih Makmur Desa Ngadiluwih, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. "Untuk mendekati petani memang dibutuhkan kesabaran. Kami sosialisasi hingga tiga kali, sebelum akhirnya mereka ikut dengan program kita,” ujarnya pada Joglosemar Senin (29/10).

Kenapa hal itu terjadi? Karena para petani sudah sering mendapat sosialisasi mengenai bermacam-macam program pertanian dari sejumlah pihak. Namun hasilnya, bukan keuntungan tapi sering gagal. "Petani sekarang seolah-olah menjadi objek pemasaran dari produk-produk pertanian, sementara hasilnya belum bisa dipertanggungjawabkan," tambahnya.


Permodaan Petani

Program Tani Muda yang dimulai pada sekitar Februari-Maret 2012 ini, sekarang sudah masuk pada tahap ke-2 dengan menanam padi jenis IR 64 dan mentik wangi. "Tahap 1, mulai pada masa tanam kedua dengan mengajak 15 orang petani. Luasan lahan yang digarap ada 9,5 hektare dan tahap kedua mulai pada masa tanam ketiga menggandeng 9 petani dengan luasan lahan 6,35 hektare," lanjut Istas.

Tahap awal ini Dinar Peduli mengajak tokoh masyarakat agar bisa menjadi contoh bagi petani. Selain itu, Dinar juga menggandeng petani kecil yang mempunyai luasan lahan tak begitu besar. Sementara untuk konsultan pendamping, program ini menggandeng pakar pertanian, Dr Syafii Latuconsina.

Ditambahkan Istas, petani mendapat suntikan modal saat mengikuti program ini. Rata-rata biaya yang dikeluarkan Dinar Peduli adalah Rp 4,7 juta per hektare. Dana itu digunakan antara lain untuk olah tanah, sewa traktor, penyiangan, dan Saprotan. Sedangkan penyuluhan tetap didampingi Dinar Peduli. "Petani menggunakan uangnya terlebih dahulu, kemudian baru diganti. Misal untuk sewa traktor, biaya Rp 700.000. Petani menalangi dulu, baru setelah selesai lapor ke kami dan kami ganti,” ujar Istas.

Istas mengemukakan pada prinsipnya, program ini berusaha mengubah pola para petani yang ingin serba instan, terutama dalam penggunaan pupuk yang berlebihan. Pertama-tama, kesuburan tanah diukur untuk mengetahui tingkat kebutuhan pupuk. Dengan program ini, sama sekali sudah tidak menggunakan pestisida. Untuk pemupukan menggunakan sedikit pupuk kimia dengan perbandingan, kalau 1 hektare pengolahan secara konvensional menghabiskan sekitar 300 kilogram, dengan program ini hanya 10-20 kilogram per hektare saja ditambah pupuk organik.

“Ke depan, kami ingin agar penggunaan pupuk kimia juga hilang, digantikan dengan pupuk organik. Kalau sekarang memang belum bisa sepenuhnya, karena stok pupuk kandang juga belum mencukupi sepenuhnya. Petani juga belum percaya sepenuhnya jika meninggalkan pupuk kimia secara keseluruhan. Penghematan bisa mencapai Rp 1 juta lebih untuk tiap hektarenya,” kata dia saat ditemui di Kantor Dinar Peduli.


Bukan Tanpa Halangan

Selain pemupukan, cara penanamannya pun agak berbeda. Saat sosialisasi, dikatakan Pendamping Teknis Tani Muda Indonesia, Rusdiyanto, tim  berusaha menunjukkan sejumlah lokasi lain yang berhasil menggunakan sistem penanaman padi jajar legowo. Pada sistem jajar legowo ini, yang paling berbeda dengan sistem tradisional yang dilakukan oleh para petani saat menanam padi adalah jarak tanamnya.

Rusdi menguraikan, jarak tanam padi, yang biasa dipakai adalah  ke samping 20cm dan ke belakang 20 cm atau lebih dikenal dengan bentuk tegel. Tapi, pada sistem jajar legowo, petani dikenalkan dengan jarak tanam ke samping 20 cm lalu 20 cm dan ke samping lagi 40 cm, kemudian ke belakang 10 cm. “Jarak 40 cm tersebut berfungsi sebagai sirkulasi udara. Pada saat pemupukan, sisa tanah yang tidak ditanami tersebut sebagai jalur  petani melakukan pemupukan. Sehingga pemupukan bisa maksimal dan meminimalisir pertumbuhan rumput karena diinjak terus,” urai dia.


Bukan berarti program ini tanpa halangan, terutama pada perubahan musim. Rusdiyanto memaparkan, pada program tahap pertama yang dilakukan pada musim tanam kedua adalah pancaroba. Sedang pada tahap ketiga, adalah musim kemarau yang cukup panjang. “Alhamdulillah, beberapa titik, lahan yang ikut program kami tidak diserang tikus. Kalaupun ada yang diserang, jumlahnya sangat kecil. Sedangkan wereng juga tidak menyerang, karena sirkulasi udara dari jarak tanam jajar legowo mencukupi,” kata dia.

Ditambahkan Ketua Gapoktan Luwih Makmur,  Sungeb Suwito Harsoyo, pada program tahap ke-2 ini, merupakan masa terberat. Hasilnya, masih teka-teki karena musim kemarau yang cukup panjang. "Sebab, jika sudah berbicara mengenai air, biaya yang dibutuhkan bisa berlipat-lipat. Sekali sewa jasa diesel untuk mengalirkan air itu antara Rp 40.000 sampai Rp 60.000 per jamnya. Padahal kebutuhan air juga cukup banyak," beber Sungeb.

selain itu, biaya panen juga belum terhitung dalam Tani Muda ini. "Jadi, biaya yang masih ditanggung petani adalah masalah air dan biaya panen,"  ringkasnya.

Jika program ini diteruskan di Gapoktan Luwih Makmur, Sungeb bersedia melakukan sosialisasi lagi pada anggotanya yang berjumlah sekitar 300 petani. "Petani yang berminat juga banyak, namun ada juga peserta tahap 1 dan 2 Tani Muda Indonesia yang memutuskan ke luar. Permasalahan yang ada kita selesaikan bersama sambil berjalan," ujar Sungeb.

Kesediaan Sungeb ini juga tak lain karena kepuasannya setelah melihat hasil panen sawah mengalami peningkatan. Pada panen tahap pertama, dari sawahnya yang seluas 4.000 meter persegi hasilnya mengalami peningkatan. Jika dengan cara konvensional panen sekitar 2,2 ton, setelah mengikuti semua arahan Dinar Peduli hasilnya meningkat menjadi 2,7 ton.


Beras Organik

Sementara untuk pembagian hasil akan dilakukan setelah panen. Dinar Peduli mendapat 35 persen dan petani mendapat 65 persen. Pada Tahap I, hasil panen petani, antara 6 sampai 7 ton. Padahal kalau menggunakan cara konvensional hanya sekitar 4 ton saja.

Dinar Peduli memborong 17 ton panen petani binaan mereka. “Kalau orang desa, itu kan tidak semua hasil panen dijual, ada yang disimpan di rumah untuk kebutuhan sendiri atau gotong royong saat mantu,” kata Istas.

Hasil petani tersebut dibeli Dinar Peduli, sesuai harga standar di pasaran. “Pada panen tahap pertama kemarin, harga gabah basah rata-rata Rp 3.500, ditambah insentif dari kami Rp 25 per kilogram. Insentif itu sebagai apresiasi pada petani karena telah mengikuti arahan dari kami.Kemudian, pemasaran kami yang melakukan. Beras kami paket 1 bungkus ada yang 2,5 kilogram dan 5 kilogram per bungkusnya dengan label Beras Organik Gunung Lawu,” papar Istas.

Beras tersebut dipasarkan ke donatur Dinar Peduli di mana yayasan ini juga bergerak sebagai penyalur zakat, infak, dan shodaqoh. Selain itu, beras juga dimasukkan ke beberapa agen beras serta kantor cabang BMT Alfa Dinar.

Per kilogram dijual Rp 10.000 untuk IR 64 dan Rp 11.000 untuk jenis mentik wangi. Beras tersebut telah melewati proses uji laboratorium Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB). Hasilnya, bernomor PJ-287/VII/12, beras Tani Muda Indonesia termasuk golongan beras organik dengan kandungan pestisida negatif, karbohidrat 52,65 persen, serat kasar 0,7 persen, dan protein 8,72 persen. --Amrih Rahayu--


Tidak ada komentar:

Posting Komentar