Amplop Putih
*Oleh: Amrih Rahayu
Buku,
kertas, dan baju di kamar berserakan bagai kapal terkoyak badai. Rio
duduk di ujung kasur. Wajahnya kusut masai, sesekali berdiri menepis
baju yang digantung di almari. “Ah, di mana aku menaruhnya. Bodoh!” ujar
Rio merutuk dirinya.
Rio
memijit-mijit kepalanya. Rambutnya berantakan. Kepalanya serasa tak
kuat menahan kepanikannya. “Apa ada maling?” ujarnya sendiri.
Tak
mungkin rasanya. Maling mana yang mau mempertaruhkan gengsinya masuk ke
kamar yang minus barang berharga ini. Hanya ada satu unit komputer
usang, kipas angin yang hanya tinggal baling-baling saja, baju
bergelantungan ditambah aroma kamar yang sangat bau. Bau khas lelaki
alias jarang dibersihkan, kombinasi keringat dan seprei tak pernah
dicuci.
*****
Lastri
bingung. Sesekali mengelus perutnya di ruang cuci “Laundry Rapih”.
Meski dalam bimbang, tangannya seolah tak peduli. Jari-jari putihnya
tetap cekatan memberi tanda warna pada pakaian-pakaian kotor yang hendak
dicuci. Tanda tersebut kemudian diberi nama sesuai pemiliknya. Lalu
tangannya memindahkan pakaian tersebut ke tabung mesin cuci. Tak lupa
dia memasukkan detergen kemudian menekan tombol ON di mesin berkapasitas
12 kilogram ini. Suara mesin cuci menderu. Lastri melanjutkan memberi
label nama pada pakaian lain yang masih menumpuk.
*****
Rio
berpindah ke komputernya. Jari-jemarinya mencoba menari di keyboard.
Ide-ide tulisan yang ada di pikirannya hanya berseliweran. Jemarinya
seolah kaku. Setengah jam, dia hanya membuka-buka file data, akhirnya
menyerah dengan kebuntuan ini, Rio memilih bermain game. Siapa tahu denganngegame, otaknya akan lebih segar sehingga ingat di mana menaruh amplop putih berisi uang Rp 1 juta dari kawan lamanya, Sarmin.
Uang tersebut hasil jualan handicraft hasil kulakan ke perajin yang dititipkan ke toko online-nya
Sarmin. Uang itu seharusnya bisa menghapus kegalauan Rio yang belum
membayar uang sewa kamar selama tiga bulan. Sangat penting bagi
kelanjutan hidup Rio di Kota Pelajar, Yogyakarta. Sementara
tulisan-tulisan yang dia kirim ke media cetak tak pernah ada kabar
beberapa bulan terakhir. Uang itu seharusnya bisa membantu mengatasi
kesulitannya.
Tapi
nasib berkata lain, amplop yang sudah dia simpan itu justru menghilang.
Nasibnya di ujung tanduk. Kamar sudah diaduk-aduk tapi tidak ketemu
juga. “Rezeki datangnya memang tak disangka. Tapi perginya juga
tiba-tiba.”
Wajah
ibu kosnya berseliweran. “Rio sudah berapa kali kamu janji mau bayar
kos? Ini sudah bulan ketiga. Kalau ingkar lagi, angkat semua
barang-barangmu,” gertak Ny Reba menari-nari di pelupuk matanya.
*****
Pakaian
yang telah kering menumpuk di samping meja setrika. Ina masih melayani
pelanggan “Laundry Rapih” di meja depan. Sedang Lastri bersiap menggosok
pakaian. “Las, ada penjual rujak tuh. Kamu mau?” ujar Ina berteriak.
“Iya
Na, mangganya yang banyak ya,” jawab Lastri. Walau dia bisa
menyembunyikan perutnya dari Ina, tapi Lastri tidak bisa mengendalikan ngidam laiknya wanita hamil.
Walau
begitu, dia berdoa, agar Ina yang datang bersama dari kampungnya tak
mengetahui rahasianya. Sudah tiga bulan ini, Lastri telat datang bulan.
Seminggu lalu dia membeli tester pack di apotek, begitu dites ternyata positif. Lastri panik. Dia yakin ada orok dalam perutnya.
Mungkin
ini efek petualangannya. Setahun terakhir, dia memang sering kencan
dengan mahasiswa. Mereka mengajaknya makan ke restoran, jalan-jalan ke
mal, bahkan sering mengajak menginap di hotel murah atau penginapan.
Bukan hanya mahasiswa, para pekerja kantor juga kerap mengundangnya.
Wajah Lastri memang cantik, kulitnya putih bersih tidak kalah dengan
para mahasiswi. Hanya saja nasib Lastri dari Kampung Tegalsari, Wonogiri
tak sebaik mereka. Dia menjadi buruh cuci di “Laudry Rapih” di kompleks
kampus swasta di Kota Gudeg.
Kecantikannya
ini pula membuat laundry tempatnya bekerja kebanjiran pelanggan. Entah
sudah menjadi rahasia pelanggan prianya, Lastri kerap diajak keluar
mereka. Namun, teman-temannya di “Laundry Rapih” tidak tahu. Yang mereka
tahu, Lastri supel sehingga banyak teman. Satu lagi, Lastri sering
keluar sendiri, kalau sedang libur.
*****
“Tok tok...”
“Rio,
Rio! Saya tahu kamu di dalam. Mana janji kamu? Katanya mau bayar lunas
uang kos,” cecar Ny Reba dari balik pintu. Rio beranjak malas dari
kasurnya untuk membuka pintu. “Iya Bu, saya masih ingat. Tapi, tapi saya
belum bisa bayar hari ini. Saya janji besok saya bayar,” ujar dia
bergetar.
“Baik.
Saya pegang janji kamu. Tapi ingat, ini yang terakhir! Sudah berapa
kali kamu ingkar? Besok, besok, dan besok. Sudah tiga bulan selalu
begitu. Kalau besok kamu enggak bisa ngelunasin, kamu harus bawa semua barang-barang kamu dari sini. Sudah banyak yang antre mau masuk ke sini. Ingat Rio,” ancam Ny Reba.
“Ya Bu, saya usahakan. Ini saya ada Rp 100.000 untuk persekot.” Tawar Rio.
“Tak usah! Saya lebih senang kalau dibayar lunas, Rp 900.000!” tolaknya. “Saya pulang dulu. Ingat besok pagi saya ke sini.”
Rio
tak bergerak memandang kepergian Ny Reba. “Ya Allah, cobaan apa ini.
Sudah tak punya muka aku pulang ke desa. Tak mungkin pula aku minta
kiriman uang dari Emak. Buat makan di sana saja susah.”
Rio
mencoba mengurai kelakuannya selama ini. Pernahkah dia membuat marah
Tuhannya. Pikirannya meracau ke sana kemari. Tiba-tiba terlintas
tindakannya yang memalukan. Dia pernah berkencan dengan gadis manis di
Tawangmangu. Memesan kamar untuk semalam. Dia sendiri lupa siapa nama
gadis tersebut.
Dia
hanya mengingat, saat itu novelnya dibeli oleh sebuah penerbit. Uang
yang cukup banyak tersebut membuatnya keblinger. Kalau saja waktu itu
bisa diulang, tentu Rio akan menyisihkan uang untuk ditabung. Setidaknya
bisa buat bayar sewa kamar kos, bukan dihambur-hamburkan buat beli
pakaian, sepatu, dan “icip-icip” kembang laundry.
*****
Lastri
sudah yakin dengan keputusannya. Hari ini dia izin tidak masuk kerja.
Kebetulan, kemarin dia menemukan sebuah amplop putih tanpa nama di
tumpukan pakaian kotor pelanggan <I>laundry<I>. Setelah
dibuka, ternyata ada pecahan Rp 50.000 sebanyak 20 lembar. Siapa peduli
dengan pemiliknya. Lumayan, bisa buat pegangan ke Klaten, pikirnya.
Berbekal
alamat seorang bidan, dia melangkah menuju pangkalan angkot lalu ke
Terminal Giwangan. Alamat bidan ini diberi oleh Susi, mahasiswi yang
kebetulan dikenalnya saat sama-sama menginap di Hotel Guyup dekat
Malioboro. “Ini saya kasih alamat Bidan Sri. Siapa tahu kamu akan
membutuhkannya. Dia jos, saya sudah dua kali ke sana. Semuanya baik-baik
saja.” Itu kata-kata Susi yang terngiang-ngiang di kepala.
Lastri
membisu di dalam bus jurusan Jogja-Solo. Sampai di Terminal Klaten,
Lastri memanggil tukang becak untuk mengantarnya ke Jalan Kecipir No 6.
“Aduh,
ini kandungannya sudah tiga bulan. Saya tidak berani. Risikonya terlalu
besar,” ujar Bidan Sri. “Kalau masih satu atau dua bulan saya berani.”
“Tolonglah saya, Bu Bidan. Saya sudah tidak tahu lagi mau gimana,” ujar Lastri memelas.
“Baiklah.
Tapi saya pengin Anda memikirkan lagi. Silakan keluar dulu dari ruangan
ini, Anda bisa jalan-jalan di sekitar tempat saya praktik ini. Nanti
setelah saya memeriksa pasien, sekitar satu jam-an, kamu ke sini lagi
Lastri,” kata Bu Bidan.
Lastri
menurut saja. Dia tidak tahu mau jalan-jalan ke mana, yang ada di
pikirannya ia harus segera mengempiskan perutnya. “Saaaaaakit, Bu! Saya
sudah tidak kuat.” Suara dari kamar praktik Bidan Sri membangunkan
lamunan Lastri.
Lastri
kaget, rasa takut mulai merayapi dirinya. Perasaan pun mulai
berkecamuk. Dia ingat dosa-dosa yang telah dilakukan. “Ah, sanggupkah
aku menanggung dosa semua ini, ya Allah,” ucapnya lirih.
Dia
pun memilih mengikuti saran Bidan Sri, keluar mencari angin segar.
Suasana desa yang masih asri, membuat hati Lastri sedikit tenang. Dia
mengikuti langkah kakinya. Samar dia mendengar suara azan Asar dari
masjid di ujung desa.
*****
Keangkuhan
Rio meruap. Sikap angkuhnya sebagai penulis muda yang tak butuh bantuan
dari orang lain hanya tinggal sepotong kuku. Komputer, buku, pakaian,
serta barang-barang lainnya sudah dititipkan di kamar Fendy, tetangga
kosnya. Dia gagal menyelamatkan tempatnya berteduh. Rio menstater motor
tuanya meninggalkan Yogyakarta. Rasa marah karena dipermalukan ibu kos,
kecewa pada dirinya sendiri membuatnya seperti tak bernyawa lagi. []
*Penulis aktif di Komunitas Pelangi, Solo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar