Selasa, 30 Maret 2021

Untuk Anakku, Zaidan

 

Photo by Amrih Rahayu



Untuk Anakku Zaidan,

Rasanya baru kemarin Nak, ibumu merasakan mulas-mulas yang luar biasa. Aku masih ingat betul, hari itu adalah hari Sabtu. Kau sudah memasuki minggu ke-39. Dan dokter kandungan pada kontrol terakhir, kalau tidak salah  hari Rabu tanggal 27 Maret 2019, menyebut bila dalam hitungan hari tidak lahir secara alamiah, maka akan dilakukan tindakan induksi persalinan (pacu) untuk membantu proses kelahiran.

Kamu tahu tidak? Ibumu ini sangat takut, takut luar biasa. Karena itu, dia selalu berdoa, agar bayi-bayinya kelak lahir secara alamiah. Obgyn pun telah membuat surat untuk dibawa ke IGD agar dilakukan tindakan pacu jika sampai hari Minggu tanggal 31, kau tidak juga lahir ke dunia. Hari Senin, 1 April harus dibawa ke IGD.

Kenapa takut? Toh, semua itu demi kebaikan bersama. Ah, kalau semua wanita yang hamil belum merasakannya mungkin tak pernah tahu. Aku mendengar dari saudara dan teman-temanku, dipacu itu sakitnya luar biasa. Melebihi rasa sakit saat persalinan.

Dan kau tahu? Saat mengandung, rahim ibu akan mengembang 500 kali lipat dari ukuran normal. Dan, darah yang hilang dalam persalinan mencapai 500 ml.  Sementara, badan manusia itu hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del, tetapi dalam persalinan, ibu akan merasakan rasa sakit sampai 57 Del. Rasa sakit itu akibat 20 tulang patah secara bersamaan. (Nakita.grid.id, 11 April 2015).  

Bisa kau bayangkan? Ah, siapapun akan merasa gagap kalau belum pernah merasakan sendiri bagaimana itu sakitnya melahirkan. Tapi setelah bayi itu lahir, rasa sakit tersebut sedikit-demi sedikit akan luntur. Terurai dengan kesibukan mengurus bayi, buah kasih kedua orangtuanya.

Maka, setelah mendapat “surat cinta” dari sang dokter itu, ibumu ini terus berdoa, berdoa lebih sering dari biasanya. Berdoa agar kau bisa lahir secara normal. Agar kau tahu anakku, selain berdoa, ibumu ini juga sering jalan-jalan pagi. Juga mengikuti kelas yoga kehamilan di usia kehamilan 37.

Selama dua kali pertemuan, ibumu ini mengikuti kelas yoga dengan instruktur yoga. Selanjutnya, setiap pekan ibumu berpindah ke rumah sakit yang rencananya akan dijadikan tempat persalinan. Latihan prenatal yoga dilakukan sepekan sekali. Hingga, menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL) menjadi dua kali dalam seminggu. Semua itu ibumu lakukan agar kau bisa lahir secara lancar. Ibumu belajar relaksasi dan pernafasan serta latihan mengejan.

Agar kau tahu saja, ibumu agak khawatir karena saat melahirkan kakakmu, dia belum bisa mengejan dengan baik dan benar. Walaupun sama, juga mengikuti kelas prenatal yoga.  Sehingga, kakakmu lahir dengan bantuan vacuum.

---

Hari Kamis, temanmu, yang ibunya waktu hamil bersamaan dengan ibumu ini telah lahir. Namanya Robi. Rumahnya cukup jauh dari rumah kita. Sebagai teman dekat, rasanya tidak afdol kalau ibumu tidak menengoknya. Karena, kita tidak akan tahu, kapan lagi bisa bersua. Dan hari Sabtu, ibumu pun menengok dengan kakakmu. Pagi jam 7, ibumu sudah merasakan konstraksi. Rasanya mulas-mulas seperti ingin BAB tapi tidak keluar. Rasa sakit itu masih bisa ditahan.

Kemudian sekitar pukul 09.00 WIB, ibumu diboncengkan oleh kawannya, menengok temanmu itu. Rasa mulas itu masih terasa tapi memang ibumu abaikan. Ibumu juga sempat minum es kelapa muda (Es degan) yang dibelikan oleh temannya. Ibumu juga sempat membeli 3 batang cokelat ketika pulang dari menjenguk.

Dua untuk temannya yang memboncengkan, Tante Nonik dan yang membelikan es degan Tante Maya. Sementara satunya, sengaja disimpan jaga-jaga untuk lahiran. Walau akhirnya coklat itu baru dimakan setelah kamu lahir.

Saat itu, di rumah hanya ada ibu dan kakakmu yang baru berusia lima tahun. Ayahmu sedang bekerja. Ibumu cuma mengabari kondisimu saat itu.  Ibumu pun menghubungi kakak ibumu, Bude Jeki yang sedang bekerja. Pukul satu, ibu diantar ke Rumah sakit Umum (RSU) Dr Oen Solo Baru.

Ibumu pun diperiksa oleh bidan baru bukaan satu. Lalu, dokter menyarankan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Harus kamu ketahui, ibumu menggunakan fasilitas layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan.

Nah sesuai ketentuan, biaya proses persalinan yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan di rumah sakit jika sudah bukaan 4 dalam kondisi normal. Maka,  dokter jaga IGD pun meminta ibumu ini berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Ibumu pun menuruti dengan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Ibumu bahkan sempat makan soto di kantin.

Ayahmu baru datang jam 3 sore, padahal biasanya hari sabtu pulang pukul 01.30. Dan kau tahu kenapa pulang telat? karena makan mie ayam sama temamannya. Rasa sebal itu tak sempat mencuat karena terhalang rasa sakitnya kontraksi.

Sekitar jam 4  sore diperiksa lagi, masih bukaan satu. Padahal, saat itu konstraksi sudah mulai sering. Ibumu sudah tidak sanggup duduk. Karena belum bukaan 4, ibumu pun disuruh pulang oleh dokter. Disuruh menunggu di rumah. Jika sewaktu-waktu merasakan rasa sakit, untuk segera ke rumah sakit.

Sebetulnya, di rumah sakit disediakan penginapan bagi penunggu. Namun, saat ibumu menanyakannya, sudah penuh.

---



Saat perjalanan pulang itu, ibumu sudah hampir putus asa, Nak. Hari itu hari Sabtu, kemungkinan praktik bidan pun banyak yang tutup kalau terpaksa  harus melahirkan di luar rumah sakit. Tetangga rumah yang berprofesi sebagai bidan pun sedang ke luar kota.

Saat itu pula ibumu sudah berserah sama Yang Kuasa. Para tetangga datang ke rumah untuk memberikan semangat. Selepas waktu Magrib, ibumu merasakan ingin pipis. Tapi, tidak keluar. Beberapa langkah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada rasa yang keluar dari jalan lahir. Ya, ketuban ibu pecah.

Segera itu pun ibumu merasa lega, karena tak harus menunggu bukaan empat jika ketuban pecah. Meminjam mobil tetangga, Tante Handa, kami pun berangkat ke rumah sakit. Disopiri oleh Pakde Basuki dan ditemani Bude Jeki. Ayahmu naik sepeda motor.

Seperti adegan film-film yang slow motion, mobil terasa jalannya lambat sekali. Walau sebenarnya jarak rumah kita dengan RS juga tidak terlalu jauh.  Tapi, terasa lama sekali. Sementara kontraksi mulai terasa hebat. Tiba di IGD, ibumu diperiksa di ruang kebidanan. Alhamdulillah sudah bukaan empat. Ibumu diperiksa lagi, denyut nadi dan lain-lain. Selesai sekitar pukul delapan. Kemudian dibawa ke ruang tindakan di lantai dua.  

Setelah melakukan proses administrasi serah terima dari IGD ke ruang tindakan, paramedis di sana pun menyiapkan segala sesuatunya. Ayahmu disuruh membeli perlengkapan persalinan untuk keperluan ibumu, semacam pembalut, gerabah untuk tempatari-arimu, dkk.

Selain ditemani ayah, Bude Jeki juga menunggu di sana. Tak berapa lama, dokter kandungan pun datang. Ah, beruntung sekali kau, Nak. Dokter yang ibumu pilih tidak sedang liburan di luar kota pada weekends itu.

Proses mengejan mengeluarkanmu tak terlalu sulit. Alhamdulilah diberi kemudahan oleh Allah SWT. Jika pada pengalaman pertama kakak, ibumu harus “Tahan. Ngejan. Tahan. Ngejan,” yang sakitnya luar biasa. Sebaliknya, saat melahirkanmu, para bidan yang membantu bilang “ayo ayo mengejan sekuat tenaga, jangan ditahan.”

“Selamat ya, Bu. Putranya sudah lahir dengan selamat,” kata Dokter Ari ayat, SpOg. Lalu, sang perawat mendekat memperlihatkan engkau, buah hatiku. “Semuanya lengkap ya, Bu.”

Rasanya lega sekali ketika kau lahir. Kau lahir pukul 21.53 WIB, BB 3,25kg dan panjang 48 cm. Syukur Alhamdulillah. Justru yang sakit adalah ketika dijahit di jalan lahirmu. Tapi, semua rasa sakit itu sekarang sudah lebur, Nak. Ibumu sudah tidak merasakan sakit lagi.

Setelah lahir, kau didekapkan di dada ibu untuk proses inisiasi dini. Selepas itu, kamu dipindah ke sebuah box kaca. Kau harus mendapat oksigen tambahan, karena kau tidak langsung menangis saat lahir.

Usai dibersihkan, ibumu pun dipindang ke ruang perawatan untuk pemulihan. Ibumu hanya istirahat dua hari untuk pemulihan. Pada hari Senin, kau dan ibumu sudah boleh pulang. Oh ya, selama ayah menjaga ibumu, kakak di rumah ditemani oleh Bude Tati, kakak dari ayahmu.

Walau harus pulang dulu ketika masih bukaan satu, namun dengan menggunakan BPJS kesehatan banyak manfaatnya. Layanan paramedis di rumah sakit tetap baik seperti pada pasien umum lainnya. Semua gratis, kecuali pembelian kebutuhan pribadi ibumu di koperasi RS.

Selain itu, untuk administrasi surat-surat kelahiranmu juga segera diurus oleh ayah. Mulai dari surat lahir, akte kelahiran sampai perubahan Kartu Keluarga (KK). Hal itu untuk keperluan administrasi di RS agar semua biaya tertanggung BPJS kesehatan.  Kalau tidak memanfaatkan layanan BPJS ini, bisa saja ayahmu menunda-nunda untuk mengurus adminstrasi kelahiranmu.

---

Meski sudah lahir, ayah dan ibumu masih bingung memberi nama. Ibumu mengusulkan nama Al Biruni, di belakang M Zaidan. Tapi, ayahmu tidak mengizinkan. Nama itu sempat tercatat di kartu kenangan lahir dari rumah sakit. Jadi, kau jangan bingung ya, Nak. Kalau menemukan nama Muhammad Zaidan Al Biruni di kartu tersebut. Akhirnya, kami sepakat menamai seperti kakakmu menjadi,  M Zaidan ALF.

Terima kasih Ya Allah atas semua karunia-Mu. Kami berharap dan berdoa semoga engkau tumbuh menjadi anak yang kuat dan mempunyai sifat-sifat yang baik seperti Rasullullah, Muhammad SAW. Anak yang terus menumbuhkan kebaikan dan kelak mendapatkan jannah Al Firdaus.

Nak, sekarang kau menginjak usia dua tahun. Sebelum sampai saat ini, banyak yang kita lalui, kebahagiaan dan kesedihan di keluarga kita. Ayah, ibu dan kakakmu selalu menyayangimu.

Kau belum sempat mengenal orangtua dari ibumu. Mbah putri meninggal dunia dua tahun sebelum kamu lahir. Beliau meninggal dunia karena komplikasi diabetes, darah tinggi dan beberapa penyakit kronis lainnya.

Sedangkan ayah dari ibumu, belum sempat menyapamu. Kita masih mendapat kesempatan membersamainya. Kau baru bisa mengunjunginya saat usiamu 40 hari, saat itu bulan puasa kondisi mbah kakung di Pegandon, Kendal, sudah kritis.

Mbah kakung meninggal dunia setelah kamu menemaninya selama 7 hari, Hari ketiga pada Lebaran tahun 2019.  Beliau meninggal dunia juga karena komplikasi, setelah sebelumnya kena serangan stroke saat tidur. Sampai kau di sana pun, Mbah kakung belum melihatmu.  Mbah Kakung sudah tidak sadar.

Tapi, insyaallah Mbah Kakung, tahu kalau kau di sana menemani beliau. Mendoakan kesembuhan beliau, agar bisa menyapamu walau sekali saja. Meski, takdir berkata lain.

---

Nak, banyak yang telah kita lewati sebelum hari ini. Kau dua kali masuk rumah sakit sebelum usiamu menginjak satu tahun. Semua itu karena diare yang terlambat ditangani dengan baik. Dan kau, juga melewati fase wabah Covid-19 beberapa hari sebelum kamu ulang tahun yang pertama.

Meski begitu, banyak hikmahnya. Karena, kau punya banyak teman di rumah. Mereka, kakak-kakak yang belajar di rumah juga tak kalah sayangnya dengan kamu. Mereka menemani dan mengajakmu bermain, ketika ibumu sedang menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Dan, wabah itu belum berlalu. Meski vaksinasi sudah terus dilakukan, namun kakak-kakak yang bersekolah belum diizinkan tatap muka di kelas. Mari berdoa, agar wabah segera berlalu…

Oh ya, Kau tahu tidak? Proses bicaramu juga lebih lama dari kawan-kawan sebayamu. Kau berjalan di usia sekitar satu tahun. Sekitar  sebulan setelah keluar dari rumah sakit. Dari yang tadinya sudah bisa mengucapkan beberapa patah kata jadi terhambat. Kau lebih suka bilang “hek hek hek…” dibandingkan mengucapkan kata lain.

Walau cemas, tapi dari lubuk hati terdalam, ibumu ini yakin, kau mampu bicara dengan lancar. Hanya saja lebih lambat dari lainnya.  Dan benar saja, tatkala banyak orang yang mulai sangsi kau bisa berbicara, atas izin Allah, kau saat ini sudah bisa mengucapkan beberapa kata. Syukur Alhamdulillah Ya Allah.

---

photo by Amrih Rahayu


Selamat ulang tahun yang kedua, Nak. Semoga kelak kau menjadi orang Soleh yang berbakti kepada orangtua. Semoga kau bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya, ilmu agama dan ilmu dunia.

Dan, menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, negara dan tentu saja agamamu, agama Islam.

Teruslah rendah hati, sayangi keluargamu, dan orang-orang di sekitarmu.

Kami, orangtuamu selalu memanjatkan doa untukmu. Doa yang tak bisa kami tulis semua di sini. Selamat hari lahir yang kedua.

 Walau hari ini kau belum bisa membaca, Aku yakin, kau tahu bahwa ibu, ayah dan kakak sangat mencintaimu tanpa syarat. Jika waktunya tiba dan kau bisa membaca, surat ini akan menjadi kenangan untukmu.

 Meski kakek dan nenek dari ibumu sudah tiada, bersyukurlah kamu masih mempunyai bude, pakde yang menyayangimu. Ada Bude Minah, Bude Ii dan Pakde Budi 

 

Dari, aku, ibumu yang selalu menyayangi dan mendoakanmu. 

Jumat, 26 Maret 2021

Perjalanan Menemukan Arti Keikhlasan

Photo by Amrih Rahayu

 Judul Buku : I love View

Penulis : Azzura Dayana

Penyunting Bahasa : Ayu Wulan

Penerbit : Indiva Media Kreasi

Cetakan/Tahun : I/2021

Tebal : 232 halaman

Harga : Rp 65.000

 

Semua salah bunga! Bertemu dengan wanita-wanita cantik adalah sebuah kesalahan bagi Sonia. Karena, kecantikan itu kelak akan merampas kebahagiaannya. Bahkan, bunga yang tak tahu apa-apa juga turut dipersalahkan.

 Karena kecantikan dan keindahannya, Sonia juga membencinya. Meskipun itu hanya sebuah lukisan atau pun motif bunga. Semua menyesakkan dada Sonia, tokoh utama novel I Love View karya Azzura Dayana.

 Atas nama Bunga Sandrina, seorang wanita cantik  yang telah merebut kekasih Sonia, Radin. Dan, Bunga dari “bunda tengah” wanita yang hadir di antara keluarganya. Wanita yang membuat mama menyingkir dari papanya.

Sonia memilih untuk melakukan solo traveling  ke sejumlah tempat wisata di Singapura dan Malaysia. Semua dilakukan untuk melupakan kisah pahitnya. Berusaha meredam amarah karena pengkhianatan dari orang-orang yang pernah dia sayangi.

 Namun, hal itu berubah ketika Sonia bertemu dengan seorang wanita berparas cantik keturunan Arab yang heel sepatunya  patah di halaman Menara Kembar Petronas, Malaysia.  Dengan tulus, Sonia mengulurkan bantuan.

 “Kalau kamu mau, pakai saja sandalku ini, nanti aku bisa beli yang baru,” kataku.

(I Love View, hal 96)

 Sonia sepertinya lupa akan kebenciannya pada standar kecantikan yang menyakitkan.  Wanita itu bernama Hilya, yang kelak membantu Sonia mengurai rasa sakit hatinya.

 Di sisi lain, dalam traveling-nya itu, ada Seon  temannya di Singapura. Seon tak patah arang berusaha untuk menemani Sonia yang sedang ingin menikmati kesendiriannya.  Meski, Sonia berusaha mengabaikan kehadiran Seon.

Dari Seon pun, akhirnya kita ketahui akronim dari I Love View. Seperti juga usaha Sonia, menemukan arti I Love View dalam petualangannya.

Photo by Amrih Rahayu

 Setelah membaca novel ini ada kesan mengambang di akhir cerita. Azzura, seolah menggantung kelanjutan dari para tokoh. Pembaca dibebaskan untuk mengakhiri perjalanan Sonia.

 Atau mungkin saja, penulis yang pernah menyabet penghargaan Buku Fiksi Dewasa Terbaik 2014 dari IKAPI – IBF 2014 untuk novel Altitude 3676 ini seolah sudah menyiapkan I Love View jilid dua. Kita tunggu saja.

Membaca novel I love View karya Azzura Dayana ini membuat saya penasaran dengan sejumlah lokasi yang digunakan sebagai latar dalam traveling solo-nya Sonia.  Azzura mengajak kita mengintip di jendela tempat-tempat eksotis di Singapura dan Malaysia. Meski tak terlalu detil, saya kira para pembaca juga penasaran dengan destinasi yang dikunjungi oleh tokoh Sonia.

 Tak hanya berwisata melihat keindahan pemandangan, Azzura juga mengajak kita berwisata religi dengan mendatangi masjid-masjid ikonik di kedua negara tersebut. Petualangan dari masjid ke masjid menjadi penanda dari penulis tentang perjalanan spiritual Sonia.  

 Masjid biasanya menjadi jujugan utama para pengembara Muslim ketika singgah di suatu tempat. Ada kebanggaan tersendiri ketika kita menunaikan salat di sana. Bahagia, masih banyak sesama Muslim di bumi tempat kita berbijak.

 Hingga, saya pun berharap suatu saat kelak saya bisa menunaikan salat di Masjid Sultan,  Singapura. Serta, Masjid Putra di Putrajaya dan Masjid Jamek di Kuala Lumpur, Malaysia.

 Pada akhirnya, membaca novel I Love View membawa kita untuk berkontempelasi, merenung kembali, siapakah kita sebenarnya? Apakah seperti Sonia sang tokoh utama yang melarikan diri dari masalah yang menghajarnya secara bertubi-tubi? Sebagai Hilya yang berdamai dengan keadaan? Atau bahkan adalah tokoh Seon?

 Siapapun kita kali ini, itu tidak penting. Yang utama adalah keberanian kita  belajar menghadapi masalah dan menyelesaikannya, seberat apapun itu. Tidak menyalahkan takdir!  Ikhlas menerima takdir, dan berusaha menyusun kembali keping puzzle-puzzle yang berserak, kalaupun belum mampu menyelesaikan kali ini, percayalah Allah  akan membantu dengan cara-cara yang kadang di luar jangkauan kita. Selamat membaca, selamat berkontempelasi. #Amrih Rahayu