Juli tahun ini adalah bulan yang saya nanti. Sebagai ibu dengan putra yang masih bersekolah di SD, saya sangat berharap, anak saya bisa bersekolah tahun ajaran baru ini. Apa lacur? Impian itu sepertinya tinggal kenangan.
Pascalebaran, saya sudah harap-harap cemas. Hati saya kian remuk membaca headline media massa akhir-akhir ini. Perkembangan jumlah kasus di Indonesia dari waktu ke waktu makin menyedihkan. Jumlah kasus di Tanah Air tembus dua juta.
Apalagi, kelompok anak usia 0-18 tahun, dari data covid19.go.id, Senin (28/6/2021), menyumbang sekitar 12,60 persen atau sekitar 250.000 dari total kasus nasional. Sementara dari laporan Update Data Nasional dan Analisis Kasus Covid-19 pada Anak-anak per 24 Juni 2020, proporsi terbesarnya kelompok usia 7-12 tahun (28,02%), diikuti 16-18 tahun (25,23%) dan 13-15 (19,92%). (Solopos, Selasa 29/6/2021)
Dari data tersebut, jelaslah mereka adalah usia sekolah dari SD-SMA. Penyelamatan generasi masa depan tentu yang utama, dibanding dengan pendidikan.
![]() |
| foto by Amrih Rahayu |
Berdasarkan Surat keputusan Bersama (SKB) empat menteri, pemerintah mendorong Pembelajaran Tatap Muka (PTM) digelar pada pertengahan Juli 2021 atau awal tahun ajaran baru 2021/2022. PTM digelar secara terbatas dan hanya diizinkan digelar di daerah yang masuk zona hijau dan kuning atau dengan risiko penularan Covid-19 rendah.
Sedangkan untuk daerah dengan zona merah dan oranye atau dengan risiko tinggi dan sedang pelaksanaan PTM tidak diizinkan. Kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan secara daring atau jarak jauh.
Faktanya, saat ini jumlah daerah dengan zona merah terus bertambah. Di Jawa Tengah saja, dari 35 kabupaten/kota, sebanyak 25 daerah sudah masuk zona merah. Di Soloraya, termasuk daerah saya tinggal yakni Kota Jamu, ada empat daerah. Yaitu, Sukoharjo, Sragen, Wonogiri, dan Karanganyar.
Pemkot Solo yang masuk zona oranye memutuskan menunda PTM. Sementara Kabupaten Sukoharjo yang berada di zona merah sudah memastikan uji coba PTM ditunda.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo, Darno, mengatakan uji coba PTM di sekolah tahun ajaran 2021/2022 pada 12 Juli 2021 ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. (Solopos, Rabu 30/6/2021)
Meminjam kosakata yang dipopulerkan oleh almarhum Didi Kempot, hati saya yang sudah remuk jadi ambyar membaca berita tersebut. Angan saya, terjun ke dasar jurang.
Saya, mungkin juga semua ibu dan orangtua di Tanah Air berharap banyak tahun ajaran 2021/2022 akan sedikit membawa angin segar dari pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan di hampir semua sendi kehidupan. Tak terkecuali bidang pendidikan.
Penutupan sekolah demi membatasi persebaran kasus Covid-19 sudah satu tahun lebih. Anak-anak kita belajar di rumah lebih dari 15 bulan. Wajar, kalaulah tahun ajaran baru ini berharap banyak.
![]() |
| foto by Amrih Rahayu |
Kami, para orangtua siswa sudah berharap bahwa PTM akan berjalan kembali di tahun ajaran baru 2021/2022 ini. Kalau tak bisa tiap hari, setidaknya bisa dilakukan rutin. Seminggu tiga kali secara berkelanjutan, tidak seperti tahun ajaran ini.
Baiklah, kepada semua ibu dan orangtua kita memang harus paham kalau kegiatan PTM memang belum bisa dilaksanakan di sekolah. Bagaimana kalau PTM tetap dilaksanakan, tapi efeknya kasus Covid-19 justru makin meningkat.
Sekarang saja, sudah banyak rumah sakit yang kolaps, kewalahan menangani pasien Covid-19. Tingkat keterisian pasien di ruang isolasi dan Intensive Care Unit (ICU) sudah sekitar 80-90 persen, bahkan banyak pula yang sudah overload. Tak perlu lagi menambah beban bukan?
Setelah melalui 15 bulan melihat anak-anak full di rumah, tentu bukan hal yang mudah. Sangat banyak tantangan yang kita hadapi.
Putra saya saja, yang tahun 2020/2021 masuk kelas satu SD, selama setahun hanya masuk sekolah dalam hitungan jari, dengan durasi paling lama 2 jam. Itu dalam satu tahun. Bayangkan, satu fase pengenalan lingkungan sekolah selama satu tahun telah hilang begitu saja. Peralihan dari TK ke sekolah dasar terhempas kembali ke rumah.
Sepertinya, saya lebih mengenal wali kelasnya dibanding anak saya. Karena, hampir tiap sepekan sekali saya berjumpa dengan beliau untuk mengambil dan menyerahkan tugas.
Saya masih ingat, pada saat tes semester awal yang dikerjakan di rumah, dalam pelajaran bahasa Indonesia terdapat soal kalau tidak salah, “Kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Senin di sekolah adalah.”
Anak saya saat itu betul-betul kebingungan memilih jawabah pilihan ganda. Kalau tidak saya jelaskan terlebih dahulu, jawabannya pasti salah. Padahal, kalau ada kegiatan belajar mengajar di sekolah, soal tersebut tentu dengan sangat mudah ia jawab. Semua yang pernah bersekolah pasti akan memilih jawaban, “upacara bendera.”
Itu hanya satu contoh yang bisa saya sampaikan. Masih banyak pula yang dirasakan anak-anak atau orangtua.
Saya, dan semua ibu dan orangtua di Tanah Air merasakan betapa menantangnya membimbing sekaligus mendidik putra-putri kita di rumah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah kita, orangtua, sudah kapable dengan pengalaman hampir 15 bulan membantu dan membimbing anak-anak belajar di rumah? Pertanyaan yang mudah disampaikan tapi sulit untuk dijawab.
Karena, tak semuanya ibu berada di rumah untuk mengasuh anak-anaknya. Ada yang memang harus bekerja untuk mengaktualisasikan diri maupun membantu perekonomian keluarga. Belum lagi dengan orangtua yang tinggal berjauhan dari anak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Bukan berarti Ibu Rumah Tangga (IRT) yang full di rumah bisa dengan enteng mengatasinya. Waktu IRT terbagi-bagi untuk mengasuh anak, membantu belajar, memasak, membersihkan rumah dan tetek-bengek lainnya.
Apalagi kalau orangtuanya bekerja. Pergi pagi dan pulang sore! Rasa capai yang menumpuk setelah bekerja harus berhadapan dengan tugas anak-anak, utamanya yang masih memerlukan bimbingan jenjang PAUD-SD. Belum lagi dengan tugas rumah tangga lain yang harus dikerjakan.
Sementara kondisi anak-anak juga tak kalah “membosankan.” Mereka jenuh, karena terlalu lama waktu “liburannya.” Saat masih belajar di sekolah, setidaknya ada durasi waktu yang cukup banyak untuk kegiatan belajar secara terstruktur di sekolah.
Kini, selama 24 jam, mereka di rumah. Dampaknya, tingkat disiplin anak-anak juga merosot, seperti jadwal bangun pagi, mandi pagi dan sore, jam belajar, jam tidur serta jadwal lainnya. Belum lagi bidang keilmuan lain yang terserap tentu tidak seoptimal daripada di sekolah. Ibarat kapal, sudah porak-poranda terhempas badai pula.
Waktu mereka lebih banyak tersita untuk bermain dengan kawan di lingkungan rumah serta bermain gawai. Jam belajar hanya sedikit saja, selepas mengerjakan tugas, mereka kembali santai dengan ”kegiatan rutinnya.”
Oleh karena itu, para ibu dan orangtua, harus pandai -pandai mengatur kegiatan buah hati. Komitmen dan sinergis yang kuat antara anak dan orangtua akan mendukung keberhasilan membimbing anak-anak kita. Meski, hal itu sangat sulit dan perlu usaha dan disiplin yang kuat untuk melaksanakannya.
Interaksi anak dan ibu saja tidak akan cukup tanpa kehadiran guru sekolah. Dengan pembelajaran jarak jauh, anak-anak lambat laun kehilangan sosok guru. Sosok teladan yang membimbing dengan welas asih di sekolah.
Oleh karena itu, baik anak-anak maupun orangtua pun tetap mengharapkan kehadiran guru dalam tumbuh kembang anaknya. Bukan sosok yang hanya memberi tugas-tugas sekolah saja.
Setelah melalui waktu yang cukup panjang, pada tahun ajaran baru, kami berharap banyak pembelajaran daring tahun ajaran 2021/2022 ini lebih atraktif dan inovatif. Para guru tentu sudah mendapatkan banyak pelatihan untuk membuat pembelajaran daring lebih menyenangkan.
Seperti, pembuatan video atau rekaman pembelajaran yang lebih banyak dan makin berkualitas. Di sisi lain, komunikasi dan interaksi langsung antara guru dan anak-anak juga makin ditingkatkan. Kegiatan home visit dengan pembatasan jumlah siswa yang selama ini dilaksanakan juga menjadi alternatif untuk menghadirkan sosok guru di hati putra-putri kami.
Ada baiknya juga, sesekali sekolah memberi support kepada orangtua. Piagam penghargaan untuk wali murid seperti yang diberikan selama ini mungkin sedikit mengobati rasa lelah “mengajar” di rumah.
Tapi, para orangtua juga membutuhkan ruang untuk berdiskusi atau sharing. Entah dengan pertemuan terbatas atau via online. Orangtua juga siap menyerap ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Jangan biarkan kami para orangtua tersesat. Rangkul kami para orangtua, beri kami support untuk mendidik putra-putri kami dengan hati.
Pada akhirnya, pendidikan anak-anak memang akan kembali ke keluarga. Orangtua yang menjadi pendidik pertama dan akan membersamai putra-putrinya. Kita pula yang harus mendukung anak-anak dalam proses belajar, serta menanamkan pendidikan moral dan pendidikan karakter.
Tak lupa, terus bersabar dan tawakal serta berdoa agar pandemi lekas berlalu. Agar anak-anak kita bisa mengenyam pendidikan di sekolah lagi. #
*Ibu rumah tangga yang tinggal di Sukoharjo.
OPINI INI TELAH TERBIT DI HARIAN SOLOPOS, KAMIS/1 JULI 2021



Tidak ada komentar:
Posting Komentar