Minggu, 10 Oktober 2021

Main POP IT Bikin Seneng Apa Bikin Anyel?

Aneka pop it

Hai Mak…

Beberapa waktu lalu, anak tetangga saya membeli mainan pop it. Nggak cuma satu tapi dua. Sebuah mainan yang terdiri dari beberapa lubang gelembung berbahan karet silicon. Lubang gelembung jumlahnya macam-macam.  

Ada yang 18 gelembung sampai 24 gelembung.  Bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit dari yang saya sebutkan. Ada yang hanya dua lubang gelembung. Tergantung besar kecilnya mainan tersebut. Satu baris bisa berjumlah dua atau delapan, tergantung bentuknya.

Bahkan sekarang juga sudah banyak dijual pop it berukuran jumbo. Hitung sendirilah Mak, gelembungnya. Suka-suka pabriknya lah. Harganya bermacam-macam, silakan cek sendiri di marketplace.

Warnanya juga bervariasi. Ada yang satu warna, ada juga yang colorfull. Bentuknya bermacam-macam, seperti hewan, binatang, bentuk hati, cupcake, ice cream dan lain sebagainya.

Namanya, Pop It Buble, ada juga yang menyebut Pop it. Cara memainkannya gimana? Ya, cuma dipencet dengan jari. Cuma itu? Ya, cuma dipencet zeyenk. Kalau sudah dipencet semua gelembungnya, tinggal dibalik, pencet lagi. Ada juga cara memainkan lainnya, you semua tinggal lihat saja di Youtube. Intinya, gelembung-gelembung itu dipencet. Titik!

Kalau kelian belum paham, bisa membayangkan seperti buble wrap. Itu lho, plastik yang digunakan packing untuk melindungi barang-barang dari kerusakan akibat goncangan atau benturan.

Lha herannya, kok ya anak-anak lain, termasuk anak saya yang baru dua tahun kok yo pada kepingin. Eh lha dalah, mainan nirmanfaat ini ternyata banyak penggemarnya. Maka, setelah anak tetangga saya itu punya, hampir semua anak-anak di kompleks perumahan juga memilikinya.

Ya nggak heran juga sih, sudah beberapa bulan ini, “POP IT” memang viral di Tiktok dan Youtube.  Yang nggak pernah update Youtube, Tiktok n media sosial lain saja yang nggak paham. Ya, sama seperti saya yang nggak paham, kenapa anak-anak pada kepingin.

Seperti juga, saya sampai sekarang belum tahu siapa pencetus ide yang membuat pop it. Setelah beberapa kali berselancar pun belum menemukan siapa orang itu. Ya, mungkin juga kurang informasinya saya sampai nggak tahu siapa pembuatnya. Kalau ada yang tahu, please, kabari mamak ini ya.


Pop It Atau Buble Wrap

Kan, mainnya cuma dipencet saja. Nggak ada tantangannya malah. Nggak seseru kita mencetin bubble wrap. Setelah banyak yang dipencet, masih penasaran lagi mencari-cari yang masih utuh. Belum lagi suara saat meletus “pletek” itu sensasi sendiri bukan? Hayo ngaku siapa yang masih suka iseng mletekin buble wrap.

Sayangnya, kita nggak bisa mainin buble wrap itu setiap saat. Harus nunggu beli barang dulu. Ya kan? Kita bisa tekor kalau harga barangnya mahal, tapi cuma ngejar buble wrap-nya saja.

Kemarin saya iseng-iseng nanya ke toko bahan kue, di sana harga buble wrap satu meter Rp 10.000. Murah sih harganya, apalagi kalau dipotong kecil-kecil lalu saya berikan ke anak-anak di kompleks perumahan. Semuanya bisa mainin.

Eh, tapi ya tapi… sampahnya donk! Plastik buble wrap pasti banyak berserakan dan akan makin menambah polusi di bumi kita tersayang kalau hanya digunakan untuk mainan.  Sampah-sampah plastik saja sudah bikin kita susah, masak ya tega nambah beban bumi ini dengan plastik buble wrap.

Ya, sudah mainin aja Pop It-mu, Nak. Toh kalau kotor bisa dicuci. Harganya juga terjangkau, dengan tiga kali harga buble wrap bisa dipakai seumur hidup. Kecuali kalau rusak atau hilang.

Oh ya, konon, memainkan Pop It juga mempunyai beberapa manfaat. Di antaranya, bisa meningkatkan perkembangan motorik, dengan menekan-nekan gelembung pop it, mampu melatih perkembangan otot anak. Serta, disebutkan juga bisa mengembalikan fokus anak.



Selain itu, memainkan Pop It juga dianggap mampu meredakan kecemasan dan menghilangkan stres.  Dengan menekan  gelembung- gelembung Pop It, anak-anak bisa meluapkan emosinya. Mereka akan merasa puas dan bisa melupakan masalahnya.

Yah, namanya juga anak-anak. Setelah memiliki mainan itu, mereka sering lupa memainkan. Paling dua atau tiga hari dibawa ke mana-mana. Selebihnya, ya tersimpan di tempat mainan.

Selebihnya juga, saya yang memainkan. Kalau menemukan Pop It, biasanya saya juga kena sindrom anak-anak. Ya mulai memainkan menakan-nekan Pop It sebentar saja. Sembari berharap dengan memainkan bisa mengurangi stres yang saya alami.

Tapi, nyatanya soal stres bayar cicilan rumah, pekerjaan domestik jemur dan setrika  baju, masak apa hari ini ya tetap ada di depan mata. Semua nggak akan selesai dengan hanya menekan Pop It bet!

Eh, masalah bayar cicilan n pekerjaan domestik itu kan masalah masing-masing lah ya. Tapi yang jelas pop it juga bisa jadi sumber penghasilan kalee. Ada yang jadi jutawan gara-gara  jual mainan pop it, bener kan? Ada juga yang bisa nebelin kantong dengan bikin konten pakai pop it.

Wes lah, semua kembali kepada panjenengan semua. Kalau suka ya silakan beli. Meminjam kata-kata andalan Gus Dur, Gitu aja kok repot. # Amrih Rahayu

Jumat, 08 Oktober 2021

7 Hal Positif Si Kecil Naik Balance Bike (selesai)


Photo by Amrih Rahayu
Zai naik balance bike-nya
 Hai Maak…

Apa panjenengan lagi bingung nyariin sepeda buat si kecil. Ada banyak pilihan, mulai dari sepeda roda tiga, sepeda roda empat atau pilih balance bike?

Sepeda roda tiga atau sepeda roda empat pasti sudah tahu semua. Nah, kalau balance bike atau push bike atau kick bike mungkin masih ada yang sedikit bingung. Balance bike  adalah sepeda roda dua yang berfungsi untuk melatih keseimbangan si kecil.  Sepeda sederhana ini tanpa pedal dan rantai. Jadi, si kecil harus menggunakan kekuatan kaki untuk menggerakkan balance bike. Dengan sudah berlatih menggunakan balance bike, kelak diharapkan si kecil bisa naik sepeda roda dua tanpa kesulitan.

Anak saya sudah belajar naik sepeda keseimbangan atau balance bike sebulan terakhir. Pengalamannya sudah saya bagi di tulisan sebelumnya. Udah baca tulisan saya mengenai pengalaman mendampingi si kecil naik balance bike di post sebelumnya? Kalau belum, coba baca dulu ya, ini linknya https://rapalkata.blogspot.com/2021/10/7-hal-penting-yang-harus-diperhatikan.html

Pada bagian pertama kemarin, saya sudah berbagi pengalaman mendampingi si kecil saat bermain balance bike. Wes tho, rempong juga kan harus terus memantau si kecil saat ber-balance bike? Tapi, tugas seru itu bisa dilakukan bergantian mendampingi ayah, ibu atau si kakak.

Photo by Amrih Rahayu
Zai asyik bermain dengan teman-temannya.
Jangan bersedih, dalam kerempongan tersebut ada banyak manfaat yang bisa si kecil peroleh saat naik sepeda keseimbangan.  Bukankah tak ada usaha yang sia-sia kalau kita lakukan dengan sepenuh hati?

Begitu juga si kecil, pasti sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa naik balance bike? Berikut ini 7 tujuh hal positif yang bisa diambil dari naik balance bike.

1. Membangun bounding dengan orangtua

Orang tua memang seharusnya mendampingi si kecil saat belajar naik sepeda keseimbangan. Meski berupa rangkaian sederhana, anak melalui proses belajar untuk mengendalikannya. Ada kalanya terjatuh, ataupun kewalahan tidak bisa mengendalikan sepeda.

 Kehadiran orangtua di sampingnya, menjadi semangat tersendiri bagi si kecil. Pun, jika si kecil sudah mahir mengendalikan  balance bike pun, orangtua tetap perlu mengawasinya. Hal itu menjadi penguat  hubungan antara orang tua dan anak.

2. Melatih Kekuatan Kaki

Sepeda keseimbangan tidak dilengkapi pedal dan rantai. Sepeda akan melaju dengan tenaga dorongan kaki si kecil.  Mau tidak mau, si kecil harus menggerakkan kakinya agar sepeda bisa meluncur.

3. Melatih koordinasi

Untuk menggerakkan sepeda keseimbangan memang membutuhkan kekuatan otot kaki. Tapi, tak sekadar itu. Si kecil juga harus mengendalikan stang sepeda agar meluncur ke jalur yang tepat. Tangan dan kaki harus terkoordinasi dengan baik. Begitu juga mengasah cara berpikir si kecil. Agar, sepeda bisa meluncur ke depan, berbelok atau bahkan mengerem.

 4. Anak Jadi Lebih Percaya Diri

Percaya atau tidak, setelah Zai bisa naik push bike, dia lebih percaya diri. Aih, kok bisa? Zai sekarang lebih berani bermain ke rumah tetangga yang lebih jauh. Suka godain ciwik-ciwik saat naik sepedanya. Padahal dulunya dia agak takut-takut gitu. Ya, konsekuensinya, saya harus mengawasinya lebih instens. Dia juga berani naik sepeda ke masjid yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari rumah kami.

 

Photo by Amrih Rahayu
Zai mencoba track yang sempit dan bertingkat

5. Anak Lebih Berani Bereksplorasi 

Bisa naik sepeda keseimbangan sepertinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi si kecil. Anak menjadi berani untuk mencoba beberapa style bersepeda. Zai mulai meniru teman-teman kakaknya. Seperti mulai  berani mengangkat roda depan saat mengendarainya, jalan bergoyang, mencoba jalur yang sempit, berpasir, berlubang, ke rerumputan sampai mencoba naik ke balok titian. Dia selalu mencoba bereksplorasi saat naik sepeda.

6. Anak Jadi Happy

Si kecil menjadi lebih bahagia bisa naik sepeda. Kalau saya lihat, Zai lebih happy karena bisa “seperti” dengan teman-teman besarnya yang lain. Bersepeda, atau sekadar becanda. Hati yang bahagia membuatnya jadi lebih mudah saat diajak makan. Makan yang teratur, berolahraga dengan push bike-nya, membuat badan jadi lebih kuat dan sehat.

 7. Melatih Anak Naik Sepeda

Nah, ini yang tidak kalah penting. Seperti namanya, balance bike, sepeda ini bertujuan melatih keseimbangan si kecil sebelum masuk fase naik sepeda roda dua sungguhan. Saat naik pre-bike ini si kecil dibiasakan untukmengendalikan sepedanya. Kalau sudah mahir, ajarkan anak untuk mengangkat  kaki saat sepeda meluncur, wusss

 Nah, di atas tadi adalah tujuh hal positif yang bisa si kecil peroleh saat naik balance bike. Sekarang, keputusan ada pada panjenengan, Mak. Mau pilih sepeda mana untuk si kecil. Pilih yang sesuai dengan perkembangan si kecil  atau pilih yang aman-aman saja dulu? Intinya, pilihlah sesuai kantong dan kesiapan Anda dan si kecil bereksplorasi bersama. (selesai/Amrih Rahayu)


Jumat, 01 Oktober 2021

7 Tips Mendampingi Si Kecil Naik Balance Bike / Push Bike (Bagian 1)

Photo by Amrih Rahayu
Zai lagi beraksi dengan balance bike-nya.


Pengalaman Zai Naik Push Bike / Balance Bike  

Hai mak, udah pada tahu kan apa itu  push bike? Itu tuh sepeda tanpa pedal untuk anak Bawah Tiga Tahun (Batita). Sepeda latihan untuk keseimbangan si Batita sebelum naik sepeda roda dua. Selain disebut push bike, sepeda ini juga dikenal dengan sebutan balance bike atau juga kick bike. Sepeda ini diklaim bisa mengoptimalkan keseimbangan anak, sehingga ketika naik sepeda roda dua sudah langsung bisa tanpa memerlukan roda kecil pendamping.

Sepeda ini terdiri dari rangkaian sederhana. Dua roda untuk depan dan belakang, sedel serta besi pengait yang juga berfungsi sebagai stang. Rantainya di mana? Nggak ada, Mak.  

Kok bisa sih jatuh cinta sama nih sepeda? Sebenarnya sih yang pengin emaknya. Kayak lucu gitu lihat anak-anak Batita naik sepeda.

Gayung bersambut, Bude Ii nawarin balance bike untuk dedek Zai. Ya, emaknya langsung oke lah. Kata Bude sih, ini merupakan janjinya pada Zai. Si dedek ini kan proses bicaranya agak terlambat. Dia baru bisa ngomong pada usia 20 bulan.  Nah, dulu bude janjiin kalau dedek Zai bisa ngomong kata “bude” mau dibeliin sepeda.

Mau tahu harganya? Kalau Zai kemarin sekitar Rp 350.000. Untuk lebih jelasnya, bisa cek di marketplace, Mak. harga yang ditawarkan bervariasi, ada yang mulai dari Rp 200.000-an sampai jutaan. 

Kemudian, Juli lalu dipesenin push bike dengan merek Panma via teman bude secara online. Tapi oh tapi, ternyata harus inden hampir dua bulan. Sepeda ini baru sampai ke rumah pertengahan September saat Zai berusia 2,5 tahun.

Paketan satu box ini ini masih berupa  pretelan bagian-bagian sepeda gitu, eih suku cadang dink. Di antaranya dua roda untuk bagian depan dan belakang, sedel, setang, sama kunci-kunci pengait plus sticker. Bentuknya simple banget, awalnya sih nih emak mencoba ngerangkai sendiri, tapi oh tapi ternyata susah juga. Apalagi, di box ini minus lembar panduan untuk merangkai sepeda.

Secara, ni emak gak paham juga tentang otomotif dkk ya sudah lah diambil alih oleh si bapak. Dengan sedikit tenaga super, terireeeet hanya dalam waktu setengah jam saja sudah siap dipakai si Zai. 

Balance bike Zai berwarna oranye pun siap untuk bermanuver. Eh, unyu juga ternyata yang warna oranye, semua sepaket warna oranye, dari mulai karet pegangan stang, besi pengait sampai sedelnya. Kalau stang besi tetap berwarna putih.

Photo by Amrih Rahayu
Zai bersepeda dengan Kak Dza dan Kak Ra
 

Zai senang banget udah punya sepeda. Apalagi Kak Dza sama temen-temannya lagi demen bersepeda. Gabunglah si bocil sama kakak-kakak yang usianya terpaut 4-5 tahun dari Zai.

Awalnya sih seneng Maak, tapi ni bocil bandel juga. Nyoba semua jalur dari yang halus, keras, bergelombang, berpasir sampai merupumput.  Udah mau main keluar dari kompleks perumahan. Beberapa hari solat magrib di masjid bersepeda bareng si kakak-kakak.

Dan, berikut ini 7 tips untuk mendampingi si kecil naik balance bike. 

1. Setel sedel sepeda sesuai tinggi anak. Dedek disuruh duduk di sedel dan usahakan kaki bisa menapak sempurna di tanah. Kalau Zai, sedel disetel yang paling pendek, karena anaknya emang imut. Tingginya aja baru sekitar  85-90 cm.

Kaki harus bisa menopang sempurna karena nantinya dijadikan tolakan saat memacu sepeda. Kalau ketinggian, khawatirnya si anak belum bisa mengendalikan sepedanya. Malah gampang jatuh dan dedek jadi takut naik push bike-nya.

2. Untuk awalan, berikan keyakinan kepada anak bahwa dia bisa naik sepeda. Orangtua juga harus percaya pada anaknya kalau dia mampu.

Kalau Zai sih, begitu box balance bike dibuka langsung antusias. Setelah selesai dirangkai, dia langsung mencoba.

3. Saat naik pertama kali dampingi anak. Zai awalnya muter-muter bentar di depan rumah. Pelan-pelan banget. Tapi lama-lama dia bisa belajar mengendalikan dengan baik.

4. Terus dampingi anak setidaknya sampai dia lancar mengendalikan sepeda. Zai baru bisa melepas kakinya dari tanah setelah dua hari, sekarang dia mah sudah pintar ngebut n ngepot.

Oh ya, sepeda ini kan tanpa dilengkapi rem. Jadi, pastikan juga si kecil bisa mengerem menggunakan kakinya.

5. Kalau sudah lancar naik push bike tetap pantau si bocil. Kalau emak lagi masak atau keperluan lain di dalam rumah, titipkan bocil ke orang dewasa atau anak yang lebih besar.

Zai biasanya bersepeda dengan kakak dan teman-temannya. Tapi, saya selalu berpesan agar kalau bersepeda jangan jauh-jauh selama ada adiknya. Dan, lihat terus si dedek Zai.

6. Sekali lagi, jangan biarkan si kecil naik balance bike sendirian.  Pengalaman kemarin, saya lagi masuk ke dalam rumah, kakaknya asyik main juga di rumah. Gak tahu kalau Zai naik sepedanya. Tahu-tahu dia sudah main ke rumah tetangga yang jaraknya cukup jauh.

Zai ini tipe petualang dia suka mencoba track-track yang menantang, dari geronjalan, lubang, berpasir sampai polisi tidur semua dicobanya. Jadi harus dikawal terus.

7. Kunci pagar rumah kalau emak atau orang dewasa di rumah mau istirahat siang. Bisa-bisa si bocil kabur sepedaan nyari temannya.

Itulah sedikit tips kalau emak-emak ingin beliin si kecil balance bike. Seru sih seru, tapi kita orangtua harus siap mengawal teroosss….

Tapi jangan khawatir, masih banyak kok hal positifnya. Jangan lupa, pantengin lanjutan ceritanya ya…. (bersambung/Amrih Rahayu)