Hai mak, udah pada tahu kan apa itu push bike? Itu tuh sepeda tanpa pedal untuk anak Bawah Tiga Tahun (Batita). Sepeda latihan untuk keseimbangan si Batita sebelum naik sepeda roda dua. Selain disebut push bike, sepeda ini juga dikenal dengan sebutan balance bike atau juga kick bike. Sepeda ini diklaim bisa mengoptimalkan keseimbangan anak, sehingga ketika naik sepeda roda dua sudah langsung bisa tanpa memerlukan roda kecil pendamping.
Sepeda ini terdiri dari rangkaian sederhana. Dua roda untuk depan dan belakang, sedel serta besi pengait yang juga berfungsi sebagai stang. Rantainya di mana? Nggak ada, Mak.
Kok bisa sih jatuh cinta sama nih sepeda? Sebenarnya sih yang pengin emaknya. Kayak lucu gitu lihat anak-anak Batita naik sepeda.
Gayung bersambut, Bude Ii nawarin balance bike untuk dedek Zai. Ya, emaknya langsung oke lah. Kata Bude sih, ini merupakan janjinya pada Zai. Si dedek ini kan proses bicaranya agak terlambat. Dia baru bisa ngomong pada usia 20 bulan. Nah, dulu bude janjiin kalau dedek Zai bisa ngomong kata “bude” mau dibeliin sepeda.
Mau tahu harganya? Kalau Zai kemarin sekitar Rp 350.000. Untuk lebih jelasnya, bisa cek di marketplace, Mak. harga yang ditawarkan bervariasi, ada yang mulai dari Rp 200.000-an sampai jutaan.
Kemudian, Juli lalu dipesenin push bike dengan merek Panma via teman bude secara online. Tapi oh tapi, ternyata harus inden hampir dua bulan. Sepeda ini baru sampai ke rumah pertengahan September saat Zai berusia 2,5 tahun.
Paketan satu box ini ini masih berupa pretelan bagian-bagian sepeda gitu, eih suku cadang dink. Di antaranya dua roda untuk bagian depan dan belakang, sedel, setang, sama kunci-kunci pengait plus sticker. Bentuknya simple banget, awalnya sih nih emak mencoba ngerangkai sendiri, tapi oh tapi ternyata susah juga. Apalagi, di box ini minus lembar panduan untuk merangkai sepeda.
Secara, ni emak gak paham juga tentang otomotif dkk ya sudah lah diambil alih oleh si bapak. Dengan sedikit tenaga super, terireeeet hanya dalam waktu setengah jam saja sudah siap dipakai si Zai.
Balance bike Zai berwarna oranye pun siap untuk bermanuver. Eh, unyu juga ternyata yang warna oranye, semua sepaket warna oranye, dari mulai karet pegangan stang, besi pengait sampai sedelnya. Kalau stang besi tetap berwarna putih.
![]() |
| Photo by Amrih Rahayu Zai bersepeda dengan Kak Dza dan Kak Ra |
Zai senang banget udah punya sepeda. Apalagi Kak Dza sama temen-temannya lagi demen bersepeda. Gabunglah si bocil sama kakak-kakak yang usianya terpaut 4-5 tahun dari Zai.
Awalnya sih seneng Maak, tapi ni bocil bandel juga. Nyoba semua jalur dari yang halus, keras, bergelombang, berpasir sampai merupumput. Udah mau main keluar dari kompleks perumahan. Beberapa hari solat magrib di masjid bersepeda bareng si kakak-kakak.
Dan, berikut ini 7 tips untuk mendampingi si kecil naik balance bike.
1. Setel sedel sepeda sesuai tinggi anak. Dedek disuruh duduk di sedel dan usahakan kaki bisa menapak sempurna di tanah. Kalau Zai, sedel disetel yang paling pendek, karena anaknya emang imut. Tingginya aja baru sekitar 85-90 cm.
Kaki harus bisa menopang sempurna karena nantinya dijadikan tolakan saat memacu sepeda. Kalau ketinggian, khawatirnya si anak belum bisa mengendalikan sepedanya. Malah gampang jatuh dan dedek jadi takut naik push bike-nya.
2. Untuk awalan, berikan keyakinan kepada anak bahwa dia bisa naik sepeda. Orangtua juga harus percaya pada anaknya kalau dia mampu.
Kalau Zai sih, begitu box balance bike dibuka langsung antusias. Setelah selesai dirangkai, dia langsung mencoba.
3. Saat naik pertama kali dampingi anak. Zai awalnya muter-muter bentar di depan rumah. Pelan-pelan banget. Tapi lama-lama dia bisa belajar mengendalikan dengan baik.
4. Terus dampingi anak setidaknya sampai dia lancar mengendalikan sepeda. Zai baru bisa melepas kakinya dari tanah setelah dua hari, sekarang dia mah sudah pintar ngebut n ngepot.
Oh ya, sepeda ini kan tanpa dilengkapi rem. Jadi, pastikan juga si kecil bisa mengerem menggunakan kakinya.
5. Kalau sudah lancar naik push bike tetap pantau si bocil. Kalau emak lagi masak atau keperluan lain di dalam rumah, titipkan bocil ke orang dewasa atau anak yang lebih besar.
Zai biasanya bersepeda dengan kakak dan teman-temannya. Tapi, saya selalu berpesan agar kalau bersepeda jangan jauh-jauh selama ada adiknya. Dan, lihat terus si dedek Zai.
6. Sekali lagi, jangan biarkan si kecil naik balance bike sendirian. Pengalaman kemarin, saya lagi masuk ke dalam rumah, kakaknya asyik main juga di rumah. Gak tahu kalau Zai naik sepedanya. Tahu-tahu dia sudah main ke rumah tetangga yang jaraknya cukup jauh.
Zai ini tipe petualang dia suka mencoba track-track yang menantang, dari geronjalan, lubang, berpasir sampai polisi tidur semua dicobanya. Jadi harus dikawal terus.
7. Kunci pagar rumah kalau emak atau orang dewasa di rumah mau istirahat siang. Bisa-bisa si bocil kabur sepedaan nyari temannya.
Itulah sedikit tips kalau emak-emak ingin beliin si kecil balance bike. Seru sih seru, tapi kita orangtua harus siap mengawal teroosss….
Tapi jangan khawatir, masih banyak kok hal positifnya. Jangan lupa, pantengin lanjutan ceritanya ya…. (bersambung/Amrih Rahayu)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar