![]() |
| Aneka pop it |
Hai Mak…
Beberapa waktu lalu, anak tetangga saya membeli mainan pop it. Nggak cuma satu tapi dua. Sebuah mainan yang terdiri dari beberapa lubang gelembung berbahan karet silicon. Lubang gelembung jumlahnya macam-macam.
Ada yang 18 gelembung sampai 24 gelembung. Bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit dari yang saya sebutkan. Ada yang hanya dua lubang gelembung. Tergantung besar kecilnya mainan tersebut. Satu baris bisa berjumlah dua atau delapan, tergantung bentuknya.
Bahkan sekarang juga sudah banyak dijual pop it berukuran jumbo. Hitung sendirilah Mak, gelembungnya. Suka-suka pabriknya lah. Harganya bermacam-macam, silakan cek sendiri di marketplace.
Warnanya juga bervariasi. Ada yang satu warna, ada juga yang colorfull. Bentuknya bermacam-macam, seperti hewan, binatang, bentuk hati, cupcake, ice cream dan lain sebagainya.
Namanya, Pop It Buble, ada juga yang menyebut Pop it. Cara memainkannya gimana? Ya, cuma dipencet dengan jari. Cuma itu? Ya, cuma dipencet zeyenk. Kalau sudah dipencet semua gelembungnya, tinggal dibalik, pencet lagi. Ada juga cara memainkan lainnya, you semua tinggal lihat saja di Youtube. Intinya, gelembung-gelembung itu dipencet. Titik!
Kalau kelian belum paham, bisa membayangkan seperti buble wrap. Itu lho, plastik yang digunakan packing untuk melindungi barang-barang dari kerusakan akibat goncangan atau benturan.
Lha herannya, kok ya anak-anak lain, termasuk anak saya yang baru dua tahun kok yo pada kepingin. Eh lha dalah, mainan nirmanfaat ini ternyata banyak penggemarnya. Maka, setelah anak tetangga saya itu punya, hampir semua anak-anak di kompleks perumahan juga memilikinya.
Ya nggak heran juga sih, sudah beberapa bulan ini, “POP IT” memang viral di Tiktok dan Youtube. Yang nggak pernah update Youtube, Tiktok n media sosial lain saja yang nggak paham. Ya, sama seperti saya yang nggak paham, kenapa anak-anak pada kepingin.
Seperti juga, saya sampai sekarang belum tahu siapa pencetus ide yang membuat pop it. Setelah beberapa kali berselancar pun belum menemukan siapa orang itu. Ya, mungkin juga kurang informasinya saya sampai nggak tahu siapa pembuatnya. Kalau ada yang tahu, please, kabari mamak ini ya.
Pop It Atau Buble Wrap
Kan, mainnya cuma dipencet saja. Nggak ada tantangannya malah. Nggak seseru kita mencetin bubble wrap. Setelah banyak yang dipencet, masih penasaran lagi mencari-cari yang masih utuh. Belum lagi suara saat meletus “pletek” itu sensasi sendiri bukan? Hayo ngaku siapa yang masih suka iseng mletekin buble wrap.
Sayangnya, kita nggak bisa mainin buble wrap itu setiap saat. Harus nunggu beli barang dulu. Ya kan? Kita bisa tekor kalau harga barangnya mahal, tapi cuma ngejar buble wrap-nya saja.
Kemarin saya iseng-iseng nanya ke toko bahan kue, di sana harga buble wrap satu meter Rp 10.000. Murah sih harganya, apalagi kalau dipotong kecil-kecil lalu saya berikan ke anak-anak di kompleks perumahan. Semuanya bisa mainin.
Eh, tapi ya tapi… sampahnya donk! Plastik buble wrap pasti banyak berserakan dan akan makin menambah polusi di bumi kita tersayang kalau hanya digunakan untuk mainan. Sampah-sampah plastik saja sudah bikin kita susah, masak ya tega nambah beban bumi ini dengan plastik buble wrap.
Ya, sudah mainin aja Pop It-mu, Nak. Toh kalau kotor bisa dicuci. Harganya juga terjangkau, dengan tiga kali harga buble wrap bisa dipakai seumur hidup. Kecuali kalau rusak atau hilang.
Oh ya, konon, memainkan Pop It juga mempunyai beberapa manfaat. Di antaranya, bisa meningkatkan perkembangan motorik, dengan menekan-nekan gelembung pop it, mampu melatih perkembangan otot anak. Serta, disebutkan juga bisa mengembalikan fokus anak.
Selain itu, memainkan Pop It juga dianggap mampu meredakan kecemasan dan menghilangkan stres. Dengan menekan gelembung- gelembung Pop It, anak-anak bisa meluapkan emosinya. Mereka akan merasa puas dan bisa melupakan masalahnya.
Yah, namanya juga anak-anak. Setelah memiliki mainan itu, mereka sering lupa memainkan. Paling dua atau tiga hari dibawa ke mana-mana. Selebihnya, ya tersimpan di tempat mainan.
Selebihnya juga, saya yang memainkan. Kalau menemukan Pop It, biasanya saya juga kena sindrom anak-anak. Ya mulai memainkan menakan-nekan Pop It sebentar saja. Sembari berharap dengan memainkan bisa mengurangi stres yang saya alami.
Tapi, nyatanya soal stres bayar cicilan rumah, pekerjaan domestik jemur dan setrika baju, masak apa hari ini ya tetap ada di depan mata. Semua nggak akan selesai dengan hanya menekan Pop It bet!
Eh, masalah bayar cicilan n pekerjaan domestik itu kan masalah masing-masing lah ya. Tapi yang jelas pop it juga bisa jadi sumber penghasilan kalee. Ada yang jadi jutawan gara-gara jual mainan pop it, bener kan? Ada juga yang bisa nebelin kantong dengan bikin konten pakai pop it.
Wes lah, semua kembali kepada panjenengan semua. Kalau suka ya silakan beli. Meminjam kata-kata andalan Gus Dur, Gitu aja kok repot. # Amrih Rahayu














