Minggu, 10 Oktober 2021

Main POP IT Bikin Seneng Apa Bikin Anyel?

Aneka pop it

Hai Mak…

Beberapa waktu lalu, anak tetangga saya membeli mainan pop it. Nggak cuma satu tapi dua. Sebuah mainan yang terdiri dari beberapa lubang gelembung berbahan karet silicon. Lubang gelembung jumlahnya macam-macam.  

Ada yang 18 gelembung sampai 24 gelembung.  Bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit dari yang saya sebutkan. Ada yang hanya dua lubang gelembung. Tergantung besar kecilnya mainan tersebut. Satu baris bisa berjumlah dua atau delapan, tergantung bentuknya.

Bahkan sekarang juga sudah banyak dijual pop it berukuran jumbo. Hitung sendirilah Mak, gelembungnya. Suka-suka pabriknya lah. Harganya bermacam-macam, silakan cek sendiri di marketplace.

Warnanya juga bervariasi. Ada yang satu warna, ada juga yang colorfull. Bentuknya bermacam-macam, seperti hewan, binatang, bentuk hati, cupcake, ice cream dan lain sebagainya.

Namanya, Pop It Buble, ada juga yang menyebut Pop it. Cara memainkannya gimana? Ya, cuma dipencet dengan jari. Cuma itu? Ya, cuma dipencet zeyenk. Kalau sudah dipencet semua gelembungnya, tinggal dibalik, pencet lagi. Ada juga cara memainkan lainnya, you semua tinggal lihat saja di Youtube. Intinya, gelembung-gelembung itu dipencet. Titik!

Kalau kelian belum paham, bisa membayangkan seperti buble wrap. Itu lho, plastik yang digunakan packing untuk melindungi barang-barang dari kerusakan akibat goncangan atau benturan.

Lha herannya, kok ya anak-anak lain, termasuk anak saya yang baru dua tahun kok yo pada kepingin. Eh lha dalah, mainan nirmanfaat ini ternyata banyak penggemarnya. Maka, setelah anak tetangga saya itu punya, hampir semua anak-anak di kompleks perumahan juga memilikinya.

Ya nggak heran juga sih, sudah beberapa bulan ini, “POP IT” memang viral di Tiktok dan Youtube.  Yang nggak pernah update Youtube, Tiktok n media sosial lain saja yang nggak paham. Ya, sama seperti saya yang nggak paham, kenapa anak-anak pada kepingin.

Seperti juga, saya sampai sekarang belum tahu siapa pencetus ide yang membuat pop it. Setelah beberapa kali berselancar pun belum menemukan siapa orang itu. Ya, mungkin juga kurang informasinya saya sampai nggak tahu siapa pembuatnya. Kalau ada yang tahu, please, kabari mamak ini ya.


Pop It Atau Buble Wrap

Kan, mainnya cuma dipencet saja. Nggak ada tantangannya malah. Nggak seseru kita mencetin bubble wrap. Setelah banyak yang dipencet, masih penasaran lagi mencari-cari yang masih utuh. Belum lagi suara saat meletus “pletek” itu sensasi sendiri bukan? Hayo ngaku siapa yang masih suka iseng mletekin buble wrap.

Sayangnya, kita nggak bisa mainin buble wrap itu setiap saat. Harus nunggu beli barang dulu. Ya kan? Kita bisa tekor kalau harga barangnya mahal, tapi cuma ngejar buble wrap-nya saja.

Kemarin saya iseng-iseng nanya ke toko bahan kue, di sana harga buble wrap satu meter Rp 10.000. Murah sih harganya, apalagi kalau dipotong kecil-kecil lalu saya berikan ke anak-anak di kompleks perumahan. Semuanya bisa mainin.

Eh, tapi ya tapi… sampahnya donk! Plastik buble wrap pasti banyak berserakan dan akan makin menambah polusi di bumi kita tersayang kalau hanya digunakan untuk mainan.  Sampah-sampah plastik saja sudah bikin kita susah, masak ya tega nambah beban bumi ini dengan plastik buble wrap.

Ya, sudah mainin aja Pop It-mu, Nak. Toh kalau kotor bisa dicuci. Harganya juga terjangkau, dengan tiga kali harga buble wrap bisa dipakai seumur hidup. Kecuali kalau rusak atau hilang.

Oh ya, konon, memainkan Pop It juga mempunyai beberapa manfaat. Di antaranya, bisa meningkatkan perkembangan motorik, dengan menekan-nekan gelembung pop it, mampu melatih perkembangan otot anak. Serta, disebutkan juga bisa mengembalikan fokus anak.



Selain itu, memainkan Pop It juga dianggap mampu meredakan kecemasan dan menghilangkan stres.  Dengan menekan  gelembung- gelembung Pop It, anak-anak bisa meluapkan emosinya. Mereka akan merasa puas dan bisa melupakan masalahnya.

Yah, namanya juga anak-anak. Setelah memiliki mainan itu, mereka sering lupa memainkan. Paling dua atau tiga hari dibawa ke mana-mana. Selebihnya, ya tersimpan di tempat mainan.

Selebihnya juga, saya yang memainkan. Kalau menemukan Pop It, biasanya saya juga kena sindrom anak-anak. Ya mulai memainkan menakan-nekan Pop It sebentar saja. Sembari berharap dengan memainkan bisa mengurangi stres yang saya alami.

Tapi, nyatanya soal stres bayar cicilan rumah, pekerjaan domestik jemur dan setrika  baju, masak apa hari ini ya tetap ada di depan mata. Semua nggak akan selesai dengan hanya menekan Pop It bet!

Eh, masalah bayar cicilan n pekerjaan domestik itu kan masalah masing-masing lah ya. Tapi yang jelas pop it juga bisa jadi sumber penghasilan kalee. Ada yang jadi jutawan gara-gara  jual mainan pop it, bener kan? Ada juga yang bisa nebelin kantong dengan bikin konten pakai pop it.

Wes lah, semua kembali kepada panjenengan semua. Kalau suka ya silakan beli. Meminjam kata-kata andalan Gus Dur, Gitu aja kok repot. # Amrih Rahayu

Jumat, 08 Oktober 2021

7 Hal Positif Si Kecil Naik Balance Bike (selesai)


Photo by Amrih Rahayu
Zai naik balance bike-nya
 Hai Maak…

Apa panjenengan lagi bingung nyariin sepeda buat si kecil. Ada banyak pilihan, mulai dari sepeda roda tiga, sepeda roda empat atau pilih balance bike?

Sepeda roda tiga atau sepeda roda empat pasti sudah tahu semua. Nah, kalau balance bike atau push bike atau kick bike mungkin masih ada yang sedikit bingung. Balance bike  adalah sepeda roda dua yang berfungsi untuk melatih keseimbangan si kecil.  Sepeda sederhana ini tanpa pedal dan rantai. Jadi, si kecil harus menggunakan kekuatan kaki untuk menggerakkan balance bike. Dengan sudah berlatih menggunakan balance bike, kelak diharapkan si kecil bisa naik sepeda roda dua tanpa kesulitan.

Anak saya sudah belajar naik sepeda keseimbangan atau balance bike sebulan terakhir. Pengalamannya sudah saya bagi di tulisan sebelumnya. Udah baca tulisan saya mengenai pengalaman mendampingi si kecil naik balance bike di post sebelumnya? Kalau belum, coba baca dulu ya, ini linknya https://rapalkata.blogspot.com/2021/10/7-hal-penting-yang-harus-diperhatikan.html

Pada bagian pertama kemarin, saya sudah berbagi pengalaman mendampingi si kecil saat bermain balance bike. Wes tho, rempong juga kan harus terus memantau si kecil saat ber-balance bike? Tapi, tugas seru itu bisa dilakukan bergantian mendampingi ayah, ibu atau si kakak.

Photo by Amrih Rahayu
Zai asyik bermain dengan teman-temannya.
Jangan bersedih, dalam kerempongan tersebut ada banyak manfaat yang bisa si kecil peroleh saat naik sepeda keseimbangan.  Bukankah tak ada usaha yang sia-sia kalau kita lakukan dengan sepenuh hati?

Begitu juga si kecil, pasti sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa naik balance bike? Berikut ini 7 tujuh hal positif yang bisa diambil dari naik balance bike.

1. Membangun bounding dengan orangtua

Orang tua memang seharusnya mendampingi si kecil saat belajar naik sepeda keseimbangan. Meski berupa rangkaian sederhana, anak melalui proses belajar untuk mengendalikannya. Ada kalanya terjatuh, ataupun kewalahan tidak bisa mengendalikan sepeda.

 Kehadiran orangtua di sampingnya, menjadi semangat tersendiri bagi si kecil. Pun, jika si kecil sudah mahir mengendalikan  balance bike pun, orangtua tetap perlu mengawasinya. Hal itu menjadi penguat  hubungan antara orang tua dan anak.

2. Melatih Kekuatan Kaki

Sepeda keseimbangan tidak dilengkapi pedal dan rantai. Sepeda akan melaju dengan tenaga dorongan kaki si kecil.  Mau tidak mau, si kecil harus menggerakkan kakinya agar sepeda bisa meluncur.

3. Melatih koordinasi

Untuk menggerakkan sepeda keseimbangan memang membutuhkan kekuatan otot kaki. Tapi, tak sekadar itu. Si kecil juga harus mengendalikan stang sepeda agar meluncur ke jalur yang tepat. Tangan dan kaki harus terkoordinasi dengan baik. Begitu juga mengasah cara berpikir si kecil. Agar, sepeda bisa meluncur ke depan, berbelok atau bahkan mengerem.

 4. Anak Jadi Lebih Percaya Diri

Percaya atau tidak, setelah Zai bisa naik push bike, dia lebih percaya diri. Aih, kok bisa? Zai sekarang lebih berani bermain ke rumah tetangga yang lebih jauh. Suka godain ciwik-ciwik saat naik sepedanya. Padahal dulunya dia agak takut-takut gitu. Ya, konsekuensinya, saya harus mengawasinya lebih instens. Dia juga berani naik sepeda ke masjid yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari rumah kami.

 

Photo by Amrih Rahayu
Zai mencoba track yang sempit dan bertingkat

5. Anak Lebih Berani Bereksplorasi 

Bisa naik sepeda keseimbangan sepertinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi si kecil. Anak menjadi berani untuk mencoba beberapa style bersepeda. Zai mulai meniru teman-teman kakaknya. Seperti mulai  berani mengangkat roda depan saat mengendarainya, jalan bergoyang, mencoba jalur yang sempit, berpasir, berlubang, ke rerumputan sampai mencoba naik ke balok titian. Dia selalu mencoba bereksplorasi saat naik sepeda.

6. Anak Jadi Happy

Si kecil menjadi lebih bahagia bisa naik sepeda. Kalau saya lihat, Zai lebih happy karena bisa “seperti” dengan teman-teman besarnya yang lain. Bersepeda, atau sekadar becanda. Hati yang bahagia membuatnya jadi lebih mudah saat diajak makan. Makan yang teratur, berolahraga dengan push bike-nya, membuat badan jadi lebih kuat dan sehat.

 7. Melatih Anak Naik Sepeda

Nah, ini yang tidak kalah penting. Seperti namanya, balance bike, sepeda ini bertujuan melatih keseimbangan si kecil sebelum masuk fase naik sepeda roda dua sungguhan. Saat naik pre-bike ini si kecil dibiasakan untukmengendalikan sepedanya. Kalau sudah mahir, ajarkan anak untuk mengangkat  kaki saat sepeda meluncur, wusss

 Nah, di atas tadi adalah tujuh hal positif yang bisa si kecil peroleh saat naik balance bike. Sekarang, keputusan ada pada panjenengan, Mak. Mau pilih sepeda mana untuk si kecil. Pilih yang sesuai dengan perkembangan si kecil  atau pilih yang aman-aman saja dulu? Intinya, pilihlah sesuai kantong dan kesiapan Anda dan si kecil bereksplorasi bersama. (selesai/Amrih Rahayu)


Jumat, 01 Oktober 2021

7 Tips Mendampingi Si Kecil Naik Balance Bike / Push Bike (Bagian 1)

Photo by Amrih Rahayu
Zai lagi beraksi dengan balance bike-nya.


Pengalaman Zai Naik Push Bike / Balance Bike  

Hai mak, udah pada tahu kan apa itu  push bike? Itu tuh sepeda tanpa pedal untuk anak Bawah Tiga Tahun (Batita). Sepeda latihan untuk keseimbangan si Batita sebelum naik sepeda roda dua. Selain disebut push bike, sepeda ini juga dikenal dengan sebutan balance bike atau juga kick bike. Sepeda ini diklaim bisa mengoptimalkan keseimbangan anak, sehingga ketika naik sepeda roda dua sudah langsung bisa tanpa memerlukan roda kecil pendamping.

Sepeda ini terdiri dari rangkaian sederhana. Dua roda untuk depan dan belakang, sedel serta besi pengait yang juga berfungsi sebagai stang. Rantainya di mana? Nggak ada, Mak.  

Kok bisa sih jatuh cinta sama nih sepeda? Sebenarnya sih yang pengin emaknya. Kayak lucu gitu lihat anak-anak Batita naik sepeda.

Gayung bersambut, Bude Ii nawarin balance bike untuk dedek Zai. Ya, emaknya langsung oke lah. Kata Bude sih, ini merupakan janjinya pada Zai. Si dedek ini kan proses bicaranya agak terlambat. Dia baru bisa ngomong pada usia 20 bulan.  Nah, dulu bude janjiin kalau dedek Zai bisa ngomong kata “bude” mau dibeliin sepeda.

Mau tahu harganya? Kalau Zai kemarin sekitar Rp 350.000. Untuk lebih jelasnya, bisa cek di marketplace, Mak. harga yang ditawarkan bervariasi, ada yang mulai dari Rp 200.000-an sampai jutaan. 

Kemudian, Juli lalu dipesenin push bike dengan merek Panma via teman bude secara online. Tapi oh tapi, ternyata harus inden hampir dua bulan. Sepeda ini baru sampai ke rumah pertengahan September saat Zai berusia 2,5 tahun.

Paketan satu box ini ini masih berupa  pretelan bagian-bagian sepeda gitu, eih suku cadang dink. Di antaranya dua roda untuk bagian depan dan belakang, sedel, setang, sama kunci-kunci pengait plus sticker. Bentuknya simple banget, awalnya sih nih emak mencoba ngerangkai sendiri, tapi oh tapi ternyata susah juga. Apalagi, di box ini minus lembar panduan untuk merangkai sepeda.

Secara, ni emak gak paham juga tentang otomotif dkk ya sudah lah diambil alih oleh si bapak. Dengan sedikit tenaga super, terireeeet hanya dalam waktu setengah jam saja sudah siap dipakai si Zai. 

Balance bike Zai berwarna oranye pun siap untuk bermanuver. Eh, unyu juga ternyata yang warna oranye, semua sepaket warna oranye, dari mulai karet pegangan stang, besi pengait sampai sedelnya. Kalau stang besi tetap berwarna putih.

Photo by Amrih Rahayu
Zai bersepeda dengan Kak Dza dan Kak Ra
 

Zai senang banget udah punya sepeda. Apalagi Kak Dza sama temen-temannya lagi demen bersepeda. Gabunglah si bocil sama kakak-kakak yang usianya terpaut 4-5 tahun dari Zai.

Awalnya sih seneng Maak, tapi ni bocil bandel juga. Nyoba semua jalur dari yang halus, keras, bergelombang, berpasir sampai merupumput.  Udah mau main keluar dari kompleks perumahan. Beberapa hari solat magrib di masjid bersepeda bareng si kakak-kakak.

Dan, berikut ini 7 tips untuk mendampingi si kecil naik balance bike. 

1. Setel sedel sepeda sesuai tinggi anak. Dedek disuruh duduk di sedel dan usahakan kaki bisa menapak sempurna di tanah. Kalau Zai, sedel disetel yang paling pendek, karena anaknya emang imut. Tingginya aja baru sekitar  85-90 cm.

Kaki harus bisa menopang sempurna karena nantinya dijadikan tolakan saat memacu sepeda. Kalau ketinggian, khawatirnya si anak belum bisa mengendalikan sepedanya. Malah gampang jatuh dan dedek jadi takut naik push bike-nya.

2. Untuk awalan, berikan keyakinan kepada anak bahwa dia bisa naik sepeda. Orangtua juga harus percaya pada anaknya kalau dia mampu.

Kalau Zai sih, begitu box balance bike dibuka langsung antusias. Setelah selesai dirangkai, dia langsung mencoba.

3. Saat naik pertama kali dampingi anak. Zai awalnya muter-muter bentar di depan rumah. Pelan-pelan banget. Tapi lama-lama dia bisa belajar mengendalikan dengan baik.

4. Terus dampingi anak setidaknya sampai dia lancar mengendalikan sepeda. Zai baru bisa melepas kakinya dari tanah setelah dua hari, sekarang dia mah sudah pintar ngebut n ngepot.

Oh ya, sepeda ini kan tanpa dilengkapi rem. Jadi, pastikan juga si kecil bisa mengerem menggunakan kakinya.

5. Kalau sudah lancar naik push bike tetap pantau si bocil. Kalau emak lagi masak atau keperluan lain di dalam rumah, titipkan bocil ke orang dewasa atau anak yang lebih besar.

Zai biasanya bersepeda dengan kakak dan teman-temannya. Tapi, saya selalu berpesan agar kalau bersepeda jangan jauh-jauh selama ada adiknya. Dan, lihat terus si dedek Zai.

6. Sekali lagi, jangan biarkan si kecil naik balance bike sendirian.  Pengalaman kemarin, saya lagi masuk ke dalam rumah, kakaknya asyik main juga di rumah. Gak tahu kalau Zai naik sepedanya. Tahu-tahu dia sudah main ke rumah tetangga yang jaraknya cukup jauh.

Zai ini tipe petualang dia suka mencoba track-track yang menantang, dari geronjalan, lubang, berpasir sampai polisi tidur semua dicobanya. Jadi harus dikawal terus.

7. Kunci pagar rumah kalau emak atau orang dewasa di rumah mau istirahat siang. Bisa-bisa si bocil kabur sepedaan nyari temannya.

Itulah sedikit tips kalau emak-emak ingin beliin si kecil balance bike. Seru sih seru, tapi kita orangtua harus siap mengawal teroosss….

Tapi jangan khawatir, masih banyak kok hal positifnya. Jangan lupa, pantengin lanjutan ceritanya ya…. (bersambung/Amrih Rahayu)

 

 

Selasa, 14 September 2021

Maaf Sedang Merapikan Blog!

photo by Wait-where.Com

Huugfh... 

Mengelola blog ternyata tak semudah dan seindah yang bisa kita bayangkan. Butuh kesadaran  yang sesadar-sadarnya untuk memulai dan menghidupinya. Saat ini, saya sedang berusaha merapikan dan mendokumentasikan sejumlah karya yang pernah saya tulis.

 Jujur, memalukan juga ya udah bikin ini blog tahun 2013. Tapi oh my God, yang publish cuma hitungan jari saja. Sedikit cerita, postingan pertama adalah 3 Januari 2013, sebuah cerpen berjudul Amplop. Cerpen ini pernah terbit di harian Joglosemar, Solo. Ini dia cerpennya https://rapalkata.blogspot.com/2013/01/beranda.html

 Tapi, saya lupa tepatnya kapan. Tak terdokumentasikan dengan baik. Waktu itu, saya masih bekerja di media tersebut, sebelum akhirnya tutup pada tahun 2018.

 Dan, saya mulai tertatih-tatih menghidupkan blog ini lagi tahun lalu, Oktober 2020. Artinya,https://rapalkata.blogspot.com/ ini vakum 7 tahunan. Wes lah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang sedikit demi sedikit karya yang bisa terselamatkan bisa terdokumentasikan dengan baik.

 Saya dulu bekerja di Harian Joglosemar, mulai dari reporter, asisten redaktur hingga mentok jadi redaktur. Selain liputan, koordinasi hingga editing tulisan teman-teman reporter, saya juga suka menulis. Seperti Cerpen, Cernak, Opini hingga rubrik  semacam sentilan terhadap isu-isu terkini dengan gaya santai. Kalau tidak salah namanya Serambi, lalu berganti lagi menjadi Lesehan.

 Walau hanya hitungan jari, sempat juga mempunyai penggemar. Ada yang telepon atau inbox. Mereka langsung tahu saya yang nulis walau sudah pakai nama samaran. Katanya sih tulisan saya detil dan enak dinikmati. Ada juga yang bilang sentilan-sentilan yang saya tulis di Serambi atau Lesehan nyinyir tapi asyik, gayeng pokoke. Katanya sih gitu.

 Selain itu, saya juga suka mengikuti beberapa lomba kepenulisan. Lumayan, sambil menyelam sekalian minum air. Ada yang dapat seperangkat kosmetik, merchandise, uang dari ratusan ribu sampai jutaan.

 Seperti Menulis Feature Ufuk Dalam di Majalah Ummi jadi juara 3, ada juga dari Kementerian Pertanian juara harapan 2 kalau tidak salah.  Ini karyanya https://rapalkata.https://rapalkata.blogspot.com/2013/01/revitalisasi-kepercayaan-diri-petani.html

Beberapa karya tersebut sudah saya amankan. Sayangnya, komputere mbledos. Ya, sudah saya relakan, walau tidak ikhlas. Lha ya to, mau marah sama siapa? Itu juga salah satunya termasuk kesalahan saya. Ah sudahlah…Tak perlu meratap terus-menerus kan, Jum?

 Yang masih bisa terselamatkan, ya saya coba publish di sini. Yang tidak ya, biar jadi Kenangan Terindah saja. Bukan begitu Mas Bams Samson? 

Minggu, 12 September 2021

Area CFD di Solo Baru

Opini 3 tahun lalu.... 

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/7/2018). Esai ini karya Amrih Rahayu, warga Kabupaten Sukoharjo. Alamat e-mail penulis adalah amrihrahayu@gmail.com.

cek di : https://www.solopos.com/area-cfd-di-solo-baru-929498



foto by sukoharjo-makmur.blogspot.com
Perempatan The Park-HTC-Fave Hotel, Solo Baru, Sukoharjo 

Solopos.com, SOLO–Banyak pemerintah daerah saat menyediakan ruang publik  untuk masyarakat, di antaranya membangun sejumlah taman kota yang menjadi jujugan masyarakat untuk melepaskan penat.

Hampir di semua kabupaten/kota ada area car free day (CFD)atau area khusus hari bebas dari kendaraan bermotor. Jamaknyasetiap Minggu pagi, pukul 05.00 WIB-09.00 WIB. Di wilayah Soloraya ada area CFD Jl. Slamet Riyadi, Solo, yang paling populer.

Di Klaten area CFD berada di Jl. Pemuda. Di Karanganyar area CFD berada di Jl. Lawu. Di Sukoharjo area CFD berada di Jl. Veteran. Area khusus hari bebas dari kendaraan bermotor ini merupakan salah satu alternatif pariwisata murah untuk semua lapisan masyarakat.

Area CFD juga menjadi ruang berekspresi masyarakat. Di wilayah Soloraya denyut dinamika kegiatan masyarakat yang paling kentara adalah di area CFD Jl. Slamet Riyadi, Kota Solo. Beragam kegiatan dilakukan di sepanjang jalan utama Kota Solo tersebut.

Ada kegiatan olahraga yang dilakukan oleh komunitas maupun pribadi. Ada pula kegiatan yang dilakukan oleh aktivis lingkungan, sukarelawan aneka sektor, lembaga, atau institusi.

Untuk mendapatkan massa  yang cukup besar, area CFD menjadi salah satu jujugan para penyelenggara aneka kegiatan. Tak perlu mengundang. Masyarakat biasanya sangat antusias mengikuti aneka kegiatan apalagi jika gratis. Sebut saja kegiatan membaca, pemeriksaan darah, olahraga, dan lainnya.

Beragamnya kegiatan tersebut menjadi jujugan masyarakat untuk menghabiskan Minggu pagi di area CFD. Pilihan kuliner juga cukup beragam di sana. Harga yang terjangkau serta kemudahan akses mendapatkan makanan dan minuman menjadi magnet tersendiri.

Menurut Paguyuban Gawe Rejo tercatat ada 1.053 lebih pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di area CFD Jl. Slamet Riyadi, Solo. Selain itu, masih banyak PKL yang belum terdaftar di paguyuban tersebut. ().

Dari kalangan PKL saja ada 1.053 orang di area CFD setiap Minggu. Belum lagi jika mereka saat berjualan dibantu saudara atau asisten.  Ditambah para pengunjung area CFD yang rutin berolahraga, betapa banyakanya manusia yang berkumpul di sana.

Are CFD di Kota Solo cenderung sangat padat, bahkan untuk sekadar mengayuh sepeda saja sulit saking banyaknya pengunjung dan beragam aktivitas yang digelar di sana. Hal itu berbeda dengan area CFD di ibu kota Kabupaten Sukoharjo.


PADAT -- Suasana car free day di Jalan Slamet Riyadi Solo yang selalu dipadati warga.  (JIBISOLOPOSdok)

Di sana kegiatan yang dilakukan masyarakat masih sedikit. Anak-anak bisa bermain sepeda atau sekadar menggerakkan kaki di sepatu roda. Area CFD di sana lebih layak disebuti pasar Minggu pagi.

Aneka lapak kuliner maupun barang kebutuhan rumah tangga ada di sana. Saya berharap alangkah menyenangkan apabila Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga membuat area CFD di kawasan Solo Baru, yakni di Jl. Soekarno-Hatta.

Area CFD tersebut nantinya bisa menjadi alternatif masyarakat di perbatasan ”Solo coret” dan Sukoharjo bagian utara. Mereka tak perlu jauh-jauh ke Solo atau harus menguras energi ke ibu kota Kabupaten Sukoharjo.

Lokasi Strategis

Seandainya dipilih menjadi lokasi area CFD, saya pikir setidaknya Solo Baru cukup layak. Sepanjang Jl. Soekarno-Hatta dari Patung Sukarno di Tanjung Anom hingga bundaran Pandawa merupakan lokasi strategis. Di simpang empat The Park sudah terbentu embrio-nya.

Pasar Minggu Solo Baru juga sudah dipindah di seputaran kawasan tersebut. Setiap Minggu di depan Hartono Trade Center ada komunitas senam pagi yang kebanyakan diikuti oleh kaum Hawa. Di The Park ada senam pagi yang diselenggarakan oleh Lotte Mart.

Masyarakat juga banyak yang memanfaatkan kompleks mal yang luas dan rindang ini untuk berolahraga lainnya. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo tinggal menata, tetapi untuk mewujudkannya tentu tidak semudah membalik telapak tangan.

Banyak hal yang harus dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. Tentu harus didukung masyarakat, terutama warga di seputaran  Solo Baru. Pertama, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo harus melakukan mengalihkan lalu lintas di sepanjang tersebut.

Namanya juga hari bebas dari kendaraan bermotor maka Jl. Soekarno–Hatta harus steril dari kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor dialihkan ke jalur alternatif. Dari arah Wonogiri kendaraan bisa mulai belok setelah Jembatan Bacem, tepatnya ke selatan arah Jl. Langenharjo.

Selanjutnya, kendaraan bisa ke arah Gentan, Baki, atau ke arah Bundaran Patung Sukarno, Tanjung Anom. Dari Solo kendaraan yang akan melintas ke arah Jl Soekarno-Hatta bisa dibelokkan  ke arah timur ke Jl. Wahid Hasyim, Joyotakan, Pasar Kliwon, Solo, kemudian kendaraan diarahkan ke jalan raya Solo-Wonogiri, Grogol.

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo sebaiknya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo karena urusan lalu lintas di kawasan itu mencakup dua daerah. Selain persiapan jalur, tentu yang tidak kalah penting adalah persiapan sumber daya manusia, terutama personel urusan perhubungan yang akan bertugas.

Pada hari yang sama mereka juga yang bertugas di area CFD Sukoharjo. Apabila semua dilakukan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, bisa dipastikan personel akan sangat kurang. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo bisa memberdayakan masyarakat atau para sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas).

Apabila benar-benar dibuka area CFD di Solo Baru, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga harus mempertimbangkan tamu yang menginap di Fave Hotel Solo Baru, apalagi lokasinya tepat berada di perempatan The Park.

Solusinya perempatan tersebut tidak ditutup secara penuh. Masih bisa untuk lalu lalang kendaraan bermotor. Di area CFD Jl Slamet Riyadi, Solo, tepatnya di perempatan Gendengan, masih berlaku buka tutup.

Kedua, kantong-kantong parkir juga perlu dipertimbangkan. Di antaranya di seputaran bundaran Patung Pandawa, Patung Soekarno di Tanjung Anom, dan kawasan The Park.

Kantong parkir di landmark Solo Baru, bundaran Patung Pandawa  dan Patung Soekarno, pemerintah bisa memberdayakan masyarakat sekitar seperti karang taruna. Aturlah sedemikian rupa agar tidak terjadi gesekan-gesekan. Kantong parkir tersebut selain menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar juga tentu saja bisa menambah pendapatan asli daerah.

Ketiga, mengatur PKL. Ini harus dilakukan agar masyarakat tetap bisa memanfaatkan ruang publik tanpa tergusur oleh para PKL. Perlu pengaturan yang jelas, tertulis, serta ada sanksi yang jelas.

Misalnya, di sepanjang jalan dan trotoar harus bebas dari para PKL. Mereka bisa berjualan di tempat parkir rumah toko yang ada  di kawasan Solo Baru atau berada di depan teras rumah warga.

Keempat, yang tidak kalah penting adalah mengatur dinamika area CFD itu sendiri. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo bisa menggandeng kelompok seni  untuk unjuk kebolehan di depan masyarakat. Dalam hal ini instasi urusan pariwisata dan pemerintah kecamatan harus aktif menggerakkan kelompok seni di wilayahnya.

Sesekali Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga bisa mengadakan pameran potensi daerah, tetapi harus sesuaikan dengan kelompoknya agar berkesinambungan. Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil  Menengah (UKM) punya andil besar untuk kegiatan ini.

Misalnya, pada pekan pertama adalah  usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gitar dari Desa Ngrembo dan Mancasan, Kecamatan Baki. Pekan kedua UMKM rotan dari Trangsang. Lalu pekan ketiga aneka mainan anak, produk kuliner khas Sukoharjo, garmen, dan lain sebagainya.

Saya membayangkan, apabila area CFD di Solo Baru ini terealisasi akan menjadi salah satu ruang publik yang sangat dinanti masyarakat.  Gagasan ini tinggal mimpi apabila tidak bisa direalisasikan. Sebuah mimpi indah yang menunggu tangan-tangan kuasa di Pemerintah Kabupaten Sukoharjo untuk mewujudkannya.

 

Jumat, 10 September 2021

Untuk Anakku Dzaki…

 

foto by Amrih Rahayu


Sudah hampir sebulan, Nak... Maaf baru sempat posting di sini....

12 Agustus 2013

12 Agustus 2021
Untuk Anakku Dzaki…


Selamat hari lahir yang ke-8. Semoga kau tumbuh menjadi anak yang sholeh dan menjadi generasi Islam yang kuat dan tangguh. Serta, menjadi peneduh bagi keluarga kita. Sayangi saudara-saudaramu, jangan lupa untuk mendoakan keluarga kita serta keluarga besar almarhum Mbah Kakung Kasmani dan Mbah Kakung Sunatun.
Waktu terasa cepat berlalu. Masih terlintas di bayangan, betapa kami, orangtuamu, membutuhkan perjuangan untuk menantikan engkau, putra pertama. Dulu, sebelum kamu lahir, ibumu sempat merasakan kehamilan namun tidak berkembang. Sehingga, menginjak bulan ketiga terpaksa dilakukan kuretase di sebuah rumah sakit di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.
Setelah menjalani pemeriksaan, ternyata ada sedikit virus toxoplasma. Selepasnya, ibumu pun melakukan terapi ke dokter kebidanan. Alhamdulillah, tak berselang lama, tanda-tanda kehadiranmu pun mulai terlihat. Dengan semangat, kami pun menjaga amanah yang telah Allah berikan.
Rutin melakukan kontrol di RS Yarsis Kartasura hingga mengikuti senam kehamilan. Waktu hamil, ibumu masih bekerja sebagai redaktur di sebuah surat kabar di Solo. Harian Joglosemar namanya, namun sekarang sudah almarhum. Ibumu berangkat sore dan pulang malam. Tahu rasanya, begitu menyenangkan. Walau kadang lelah bertubi-tubi, tapi senang rasanya.
Oh ya, ibu sangat senang ketika mengikuti kegiatan senam kehamilan yang dilakukan setiap hari Sabtu pagi di rumah sakit. Badan terasa rileks setelah mengikutinya. Hal yang paling menyenangkan adalah fase akhir, relaksasi selama 15 menit. Ibu dan kawan-kawan lainnya diminta memejamkan mata, rileks hingga kadang sampai tertidur sebentar.
Mendekati hari-hari melahirkan adalah hal yang cukup menegangkan. Ibu mencari informasi dengan membaca buku, browsing di intrenet sampai tanya langsung kepada orang yang pernah berpengalaman. Tapi, tentu saja berbeda tanpa merasakannya langsung.
Hingga suatu ketika, ibu merasakan mulas tapi tidak bisa BAB. Mulas adalah salah satu tanda kontraksi akan melahirkan. Maka, ayahmu pun mengantarkan ibu ke IGD RS Yarsis. Tapi ternyata oh ternyata, itu kontraksi palsu. Ibu pun pulang ke rumah setelah diperiksa. Oh ya, kala itu orangtuamu masih mengontrak sebuah rumah di Blulukan, Colomadu, Karanganyar. Dan, dalam persiapan pindah ke rumah di Telukan, Sukoharjo.
Baru, sepekan kemudian, atau 3 hari setelah Lebaran, ibu merasakan mulas yang luar biasa sakitnya. Dari jam 12 malam sampai pagi tak hilang-hilang sakitnya. Akhirnya, ibumu pun kemballi ke IGD RS Yarsis. Kamu lahir Senin, 12 Agustus 2013, pukul 15.45 WIB. Engkau pun kami kami beri nama M. Dzaki AlF.
Proses melahirkanmu cukup menegangkan. Walau sering mengikuti senam kehamilan, ibumu kurang berhasil dalam mengejan. Saat detik-detik menegangkan tersebut, kamu baru terlihat kepalanya. Sementara ibumu sudah tidak punya tenaga lagi untuk mengejan.
Akhirnya, dokter Supriyadi SpOg, K, Onk, pun melakukan tindakan vacuum untuk membantu proses melahirkan. Alhamdulillah wa syukurillah, kamu lahir dengan selamat dengan BB 3.000 gram dan PB 49 Cm. Walau kepalamu saat itu agak benjol sedikit karena divacuum. Ibu kehilangan darah yang cukup banyak hingga terpaksa istirahat yang cukup lama di ruang tindakan.
Ibu ditemani ayah saat melahirkan. Bude Jeki juga bergantian menunggu. Baru sehari kemudian Mbah Uti datang ke rumah sakit. Kamu pun diboyong ke rumah Telukan setelah diizinkan pulang oleh dokter.
foto by Amrih Rahayu
Bersama Dedek Zaidan, Mb Fifi dan Mb Itis
Ibu ditemani Mbah Uti sampai seminggu, setelah itu ditinggal ke Pegandon. Ya, ibu dan ayah pun bahu-membahu untuk merawatmu. Selepas masa cuti kerja, ibu harus masuk kerja kembali. Ibu menjaga kamu dari malam sepulang kerja sampai sore. Ayah bergantian menjaga selepas kerja dari sore sampai malam.
Tahu tidak, rasanya Nak? Capainya luar biasa. Tetapi rasa capai itu hilang ketika melihat kau sehat dan tersenyum bahagia.
Walau ditinggal bekerja, kamu masih minum ASI. Saat tak ada ibu, ayahmu selalu siap sedia untuk menghangatkan ASI yang sudah disimpan di freezer. Repot benar kata ayahmu, tapi beliau tak pernah mengeluh. Tapi, kamu hanya bertahan sampai 1 tahun minum ASI, selanjutnya minum susu formula.

Oh ya, saat usiamu 1 tahunan, kamu sempat opname di RS Oen Solo Baru karena diare parah. Kau menginap sekitar tiga hari di sana. Sedih rasanya melihatmu harus disuntik dan diinfus. Untunglah setelah itu kamu bertumbuh kembang dengan baik.
Saat-saat yang sulit adalah ketika ibu harus masuk pagi untuk rapat koordinasi pemberitaan dan masuk malam untuk bekerja. Hal itu berjalan satu bulan lebih. Maka, mau tidak mau, ibu harus mencari cara untuk menitipkanmu yang baru berusia 2 tahunan ke orang lain.
Kamu sempat ibu titipkan ke seseorang selama satu hari. Tapi beliaunya tidak sanggup karena kamu menangis sepanjang hari. Kamu pun sempat ibu bawa bolak-balik ke kantor dengan perjalan sekitar 40 menit dengan naik sepeda motor. Hingga akhirnya, pada usia 2,8 bulan, ibu menemukan tempat penitipan sekaligus PAUD tempat bermain pertamamu.
PAUD Al Azharul Ulum namanya. Hampir setengah tahun, kamu selalu menangis ketika dititipkan mulai pukul 08.00 pagi sampai 12.00 siang. Alhamdulillah, bunda di sana begitu sabar menjagamu, seringkali kau digendong untuk menenangkan ketika berpisah dengan ibu.
Mungkin, masa PAUD adalah masa-masa yang sulit beradaptasi bagimu. Saat itu kamu sering menangis dan sangat pemalu. Baru setelah berpindah ke TK di yayasan yang sama, kamu mulai menunjukkan kemampuanmu.
Kamu rajin belajar dan bisa beradaptasi belajar akademik dengan lumayan cepat. Hafalan surah-surah pendek juga lancar. Olah tubuh juga berkembang dengan baik. Kamu menyukai bermain bulu tangkis, sepakbola dan juga suka bersepatu roda. Kamu juga menyukai taekwondo.
Beberapa kali, kamu ditunjuk menjadi spoke man saat tampil di panggung-panggung mini sekolah. Kamu dipercaya membaca puisi saat hari ibu di sekolah. Dan, memimpin hafalan surah-surah pendek saat tampil di sebuah mal.
Kamu dipercaya oleh guru-guru karena sudah bisa membaca dengan lancar saat itu. Alhamdulillah, kamu juga bisa membaca Alquran saat TK. Kamu dan beberapa temanmu pun mendapat apresiasi masing-masing sebuah Alquran saat lulus TK.
Tiga bulan menjelang lulus TK, pandemi Corona menyerang Tanah Air. Kamu dan anak-anak sekolah lainnya di Nusantara pun diharuskan belajar di rumah. Tak ada perayaan akhhirussanah, hanya foto-foto sebagai pengingat saja saat kelulusan TK.
Pandemi masih ada hingga kini kau menginjak kelas 2 SD di MIN 6 Sukoharjo. Kamu masih belajar di rumah bersama ibu. Maafkan ibu yang kadang marah dan tak sabar mengajarimu… Semua memang untuk kebaikanmu, walau kadang ayah dan ibu terlalu keras dalam mendidikmu untuk menjadi anak yang kuat dan mandiri. Karena tantangan hidup tak selalu mulus tapi kerapkali bergeronjal bahkan bisa menjatuhkan.

foto by Amrih Rahayu
kenapa mama selalu kehilangan ide kalau mau bikin kue tart buat kamu yaa...


Setiap habis Magrib, kami selalu berusaha untuk mengajakmu mengaji. Ayah mengajarimu mengaji, dan ibu membantu menghafal surah-surah pendek. Alhamdulillah, bacaanmu mulai lancar walau saat ini.
Tingkatkan terus prestasimu, kembangkan bakatmu, rajinlah membaca Alquran, sayangi adik dan kedua orangtuamu dan juga keluarga besarmu. Jadilah anak yang mandiri, kuat dan tegar.
Kau akan menjadi panutan adikmu tersayang dan kebanggaan bagi kedua orangtuamu.
Dari kami…
Ayah-Ibu

Senin, 05 Juli 2021

RINDU IBU KEPADA PTM

 Oleh Amrih Rahayu*  

Juli tahun ini adalah bulan yang saya nanti. Sebagai ibu dengan putra yang masih bersekolah di SD, saya sangat berharap, anak saya bisa bersekolah tahun ajaran baru ini. Apa lacur? Impian itu sepertinya tinggal kenangan.

Pascalebaran, saya sudah harap-harap cemas. Hati saya kian remuk membaca headline media massa akhir-akhir ini. Perkembangan jumlah kasus di Indonesia dari waktu ke waktu makin menyedihkan. Jumlah kasus di Tanah Air tembus dua juta.

Apalagi, kelompok anak usia 0-18 tahun, dari data covid19.go.id, Senin (28/6/2021),   menyumbang sekitar 12,60 persen atau sekitar 250.000 dari total kasus nasional. Sementara dari laporan Update Data Nasional dan Analisis Kasus Covid-19 pada Anak-anak per 24 Juni 2020, proporsi terbesarnya kelompok usia 7-12 tahun (28,02%), diikuti 16-18 tahun (25,23%) dan 13-15 (19,92%). (Solopos, Selasa 29/6/2021)

Dari data tersebut, jelaslah mereka adalah usia sekolah dari SD-SMA. Penyelamatan generasi masa depan tentu yang utama, dibanding dengan pendidikan.

foto by Amrih Rahayu

Berdasarkan Surat keputusan Bersama (SKB) empat menteri, pemerintah mendorong Pembelajaran Tatap Muka (PTM) digelar pada pertengahan Juli 2021 atau awal tahun ajaran baru 2021/2022. PTM digelar secara terbatas dan hanya diizinkan digelar di daerah yang masuk zona hijau dan kuning atau dengan risiko penularan Covid-19 rendah.

Sedangkan untuk daerah dengan zona merah dan oranye atau dengan risiko tinggi dan sedang pelaksanaan PTM tidak diizinkan. Kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan secara daring atau jarak jauh.

Faktanya, saat ini jumlah daerah dengan zona merah terus bertambah. Di Jawa Tengah saja, dari 35 kabupaten/kota, sebanyak 25 daerah sudah masuk zona merah. Di Soloraya, termasuk daerah saya tinggal yakni Kota Jamu, ada empat daerah. Yaitu, Sukoharjo, Sragen, Wonogiri, dan Karanganyar.

Pemkot Solo yang masuk zona oranye memutuskan menunda PTM. Sementara Kabupaten Sukoharjo yang berada di zona merah sudah memastikan uji coba PTM ditunda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo, Darno, mengatakan uji coba PTM di sekolah tahun ajaran 2021/2022 pada 12 Juli 2021 ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. (Solopos, Rabu 30/6/2021)

Meminjam kosakata yang dipopulerkan oleh almarhum Didi Kempot, hati saya yang sudah remuk jadi ambyar membaca berita tersebut. Angan saya, terjun ke dasar jurang.

Saya, mungkin juga semua ibu dan orangtua di Tanah Air berharap banyak tahun ajaran 2021/2022 akan sedikit membawa angin segar dari pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan di hampir semua sendi kehidupan. Tak terkecuali bidang pendidikan.

Penutupan sekolah demi membatasi persebaran kasus Covid-19 sudah satu tahun lebih. Anak-anak kita belajar di rumah lebih dari 15 bulan. Wajar, kalaulah tahun ajaran baru ini berharap banyak.

foto by Amrih Rahayu


Kami, para orangtua siswa sudah berharap bahwa PTM akan berjalan kembali di tahun ajaran baru 2021/2022 ini. Kalau tak bisa tiap hari, setidaknya bisa dilakukan rutin. Seminggu tiga kali secara berkelanjutan, tidak seperti tahun ajaran ini.

Baiklah, kepada semua ibu dan orangtua kita memang harus paham kalau kegiatan PTM memang belum bisa dilaksanakan di sekolah. Bagaimana kalau PTM tetap dilaksanakan, tapi efeknya kasus Covid-19 justru makin meningkat.

Sekarang saja, sudah banyak rumah sakit yang kolaps, kewalahan menangani pasien Covid-19. Tingkat keterisian pasien di ruang isolasi dan Intensive Care Unit (ICU) sudah sekitar 80-90 persen, bahkan banyak pula yang sudah overload. Tak perlu lagi menambah beban bukan?

Setelah melalui 15 bulan melihat anak-anak full di rumah, tentu bukan hal yang mudah. Sangat banyak tantangan yang kita hadapi.

Putra saya saja, yang tahun 2020/2021 masuk kelas satu SD, selama setahun hanya masuk sekolah dalam hitungan  jari, dengan durasi paling lama 2 jam.  Itu dalam satu tahun. Bayangkan, satu fase pengenalan lingkungan sekolah selama satu tahun telah hilang begitu saja. Peralihan dari TK ke sekolah dasar terhempas kembali ke rumah.

Sepertinya, saya lebih mengenal wali kelasnya dibanding anak saya. Karena, hampir tiap sepekan sekali saya berjumpa dengan beliau untuk mengambil dan menyerahkan tugas.

Saya masih ingat, pada saat tes semester awal yang dikerjakan di rumah, dalam pelajaran bahasa Indonesia terdapat soal kalau tidak salah, “Kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Senin di sekolah adalah.”

Anak saya saat itu betul-betul kebingungan memilih jawabah pilihan ganda. Kalau tidak saya jelaskan terlebih dahulu, jawabannya pasti salah. Padahal, kalau ada kegiatan belajar mengajar di sekolah, soal tersebut tentu dengan sangat mudah ia jawab. Semua yang pernah bersekolah pasti akan memilih jawaban, “upacara bendera.”

Itu hanya satu contoh yang bisa saya sampaikan. Masih banyak pula yang dirasakan anak-anak atau orangtua.

Saya, dan semua ibu dan orangtua di Tanah Air  merasakan betapa menantangnya membimbing sekaligus mendidik putra-putri kita di rumah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah kita, orangtua, sudah kapable dengan pengalaman hampir 15 bulan membantu dan membimbing anak-anak belajar di rumah? Pertanyaan yang mudah disampaikan tapi sulit untuk dijawab.

Karena, tak semuanya ibu berada di rumah untuk mengasuh anak-anaknya. Ada yang memang harus bekerja untuk mengaktualisasikan diri maupun membantu perekonomian keluarga. Belum lagi dengan orangtua yang tinggal berjauhan dari anak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Bukan berarti Ibu Rumah Tangga (IRT) yang full di rumah bisa dengan enteng mengatasinya. Waktu IRT terbagi-bagi untuk mengasuh anak, membantu belajar, memasak, membersihkan rumah dan tetek-bengek lainnya.

Apalagi kalau orangtuanya bekerja. Pergi pagi dan pulang sore! Rasa capai yang menumpuk setelah bekerja harus berhadapan dengan tugas anak-anak, utamanya yang masih memerlukan bimbingan jenjang PAUD-SD. Belum lagi dengan tugas rumah tangga lain yang harus dikerjakan.

Sementara kondisi anak-anak juga tak kalah “membosankan.” Mereka jenuh, karena terlalu lama waktu “liburannya.” Saat masih belajar di sekolah, setidaknya ada durasi waktu  yang cukup banyak untuk kegiatan belajar secara terstruktur di sekolah.



Kini, selama 24 jam, mereka di rumah. Dampaknya, tingkat disiplin anak-anak juga merosot, seperti jadwal bangun pagi, mandi pagi dan sore, jam belajar, jam tidur  serta jadwal lainnya. Belum lagi bidang keilmuan lain yang terserap tentu tidak seoptimal daripada di sekolah. Ibarat kapal, sudah porak-poranda terhempas badai pula.

Waktu mereka lebih banyak tersita untuk bermain dengan kawan di lingkungan rumah serta bermain gawai. Jam belajar hanya sedikit saja, selepas mengerjakan tugas, mereka kembali santai dengan ”kegiatan rutinnya.”

Oleh karena itu, para ibu dan orangtua, harus pandai -pandai mengatur kegiatan buah hati. Komitmen dan sinergis yang kuat antara anak dan orangtua akan mendukung keberhasilan membimbing anak-anak kita. Meski, hal itu sangat sulit dan perlu usaha dan disiplin yang kuat untuk melaksanakannya.

Interaksi anak dan ibu saja tidak akan cukup tanpa kehadiran guru sekolah. Dengan pembelajaran jarak jauh, anak-anak lambat laun kehilangan sosok guru. Sosok teladan yang membimbing dengan welas asih di sekolah.

Oleh karena itu, baik anak-anak maupun orangtua pun tetap mengharapkan kehadiran guru dalam tumbuh kembang anaknya. Bukan sosok yang hanya memberi tugas-tugas sekolah saja.

Setelah melalui waktu yang cukup panjang, pada tahun ajaran baru, kami berharap banyak pembelajaran daring tahun ajaran 2021/2022 ini lebih atraktif dan inovatif. Para guru tentu sudah mendapatkan banyak pelatihan untuk membuat pembelajaran daring lebih  menyenangkan.

Seperti, pembuatan video atau rekaman pembelajaran yang lebih banyak dan makin berkualitas. Di sisi lain, komunikasi dan interaksi langsung antara guru dan anak-anak juga makin ditingkatkan. Kegiatan home visit dengan pembatasan jumlah siswa yang selama ini dilaksanakan juga menjadi alternatif untuk menghadirkan sosok guru di hati putra-putri kami.

Ada baiknya juga, sesekali sekolah memberi support kepada orangtua. Piagam penghargaan untuk wali murid seperti yang diberikan selama ini mungkin sedikit mengobati rasa lelah “mengajar” di rumah.

Tapi, para orangtua juga membutuhkan ruang untuk berdiskusi atau sharing.  Entah dengan pertemuan terbatas atau via online. Orangtua juga siap menyerap ilmu untuk mendidik anak-anaknya.  Jangan biarkan kami para orangtua tersesat. Rangkul kami para orangtua, beri kami support untuk mendidik putra-putri kami dengan hati.

Pada akhirnya, pendidikan anak-anak memang akan kembali ke keluarga. Orangtua yang menjadi pendidik pertama dan akan membersamai putra-putrinya. Kita pula yang harus mendukung anak-anak dalam proses belajar, serta menanamkan pendidikan moral dan pendidikan karakter.

Tak lupa, terus bersabar dan tawakal serta berdoa agar pandemi lekas berlalu. Agar anak-anak kita bisa mengenyam pendidikan di sekolah lagi. #


*Ibu rumah tangga yang tinggal di Sukoharjo. 

 

OPINI INI TELAH TERBIT DI HARIAN SOLOPOS, KAMIS/1 JULI 2021